kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.675.000   10.000   0,38%
  • USD/IDR 16.910   28,00   0,17%
  • IDX 9.075   42,82   0,47%
  • KOMPAS100 1.256   8,05   0,64%
  • LQ45 889   7,35   0,83%
  • ISSI 330   0,23   0,07%
  • IDX30 452   3,62   0,81%
  • IDXHIDIV20 533   4,12   0,78%
  • IDX80 140   0,85   0,61%
  • IDXV30 147   0,15   0,10%
  • IDXQ30 145   1,19   0,83%

Perang Dagang, Kesenjangan Pembiayaan Perdagangan Global Capai US$ 2,5 Triliun


Kamis, 15 Januari 2026 / 13:00 WIB
Perang Dagang, Kesenjangan Pembiayaan Perdagangan Global Capai US$ 2,5 Triliun
ILUSTRASI. Lembaga keuangan di seluruh dunia gagal memenuhi pembiayaan senilai US$ 2,5 triliun yang dibutuhkan perusahaan untuk perdagangan di tahun lalu (CFOTO/Sipa USA via Reuters Conne/Costfoto)


Sumber: Reuters | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Lembaga keuangan di seluruh dunia gagal memenuhi pembiayaan senilai US$ 2,5 triliun yang dibutuhkan perusahaan untuk perdagangan di tahun lalu, sehingga menghambat perekonomian global. Demikian survei terbaru Bank Pembangunan Asia (ADB) yang dirilis, Kamis (15/1/2026).

Meskipun angka tersebut tidak berubah sejak survei terakhir pada tahun 2023, Kepala Pembiayaan Perdagangan dan Rantai Pasokan ADB Steven Beck mengatakan, kesenjangan yang terus-menerus besar tersebut merupakan peluang yang hilang untuk mendorong pertumbuhan dan pembangunan global. Kesenjangan tersebut juga melebar sejak tahun 2015, ketika berada di angka US$ 1,5 triliun.

“Tanpa pembiayaan untuk mendukung perdagangan, impor, dan ekspor, kita tidak akan mampu mewujudkan pertumbuhan dan pembangunan yang dapat kita peroleh dari perdagangan,” kata Beck seperti dikutip Reuters

Baca Juga: Donald Trump Tidak Punya Rencana Pecat Ketua The Fed Jerome Powell

Beck menambahkan lingkungan kebijakan saat ini yang diciptakan oleh tarif yang dikenakan Amerika Serikat (AS) akan mendorong peningkatan permintaan modal karena perusahaan mendiversifikasi hubungan perdagangan mereka dan mengkonfigurasi ulang rantai pasokan.

“Jika kita tidak memiliki pembiayaan yang cukup untuk mendukung transisi ke dunia perdagangan baru ini, maka transisi tersebut akan lebih sulit daripada yang seharusnya,” kata Beck.

Dalam laporannya yang dirilis pada hari Kamis, ADB menyebutkan, kesenjangan pembiayaan perdagangan juga dapat mencerminkan faktor siklus daripada kurangnya akses. Penurunan harga komoditas dan energi sejak tahun 2023 mungkin telah mengurangi kebutuhan modal kerja, terutama untuk usaha kecil dan menengah.

Platform fintech yang muncul dari booming lima tahun lalu mungkin juga membantu mengisi kesenjangan tersebut. Beck menambahkan, studi yang lebih mendalam diperlukan mengenai dampaknya terhadap pembiayaan.

Laporan tersebut juga mencatat pertumbuhan bertahap dalam penggunaan mata uang alternatif, termasuk yuan China. Meskipun dolar AS masih digunakan dalam lebih dari 82% transaksi perdagangan dan pembiayaan tradisional, ADB menemukan bahwa hampir 57% responden bank merasakan kebutuhan yang meningkat untuk penggunaan mata uang lokal.

Baca Juga: Goldman Sachs Geser Proyeksi Pemangkasan Suku Bunga, Pasar Diminta Bersabar

Beck mengatakan, ini sebagian merupakan hasil dari konfigurasi ulang rantai pasokan, dengan beberapa perdagangan tidak lagi melewati Amerika Serikat, tetapi kurangnya akses ke dolar AS juga merupakan faktor.

"Jadi, jika kita dapat meningkatkan ketersediaan solusi pembiayaan mata uang lokal, maka, kemungkinan besar, kita akan dapat mengurangi kesenjangan itu, setidaknya sampai batas tertentu," katanya.

Selanjutnya: Rupaih Kembali Melemah, Level Rp 17.000 Terbuka Lebar, Ini Catatan Analis

Menarik Dibaca: Promo Indomaret Super Hemat Terbaru sampai 21 Januari 2026, Sunlight Hemat Banyak!




TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies Investing From Zero

[X]
×