kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45786,44   -4,02   -0.51%
  • EMAS1.008.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.26%
  • RD.CAMPURAN -0.11%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.10%

Perang hari kelima: Armenia klaim tembak jatuh empat drone di dekat ibu kota Yerevan


Jumat, 02 Oktober 2020 / 05:45 WIB
Perang hari kelima: Armenia klaim tembak jatuh empat drone di dekat ibu kota Yerevan
ILUSTRASI. Pasukan Armenia mengklaim telah menembak jatuh empat drone di provinsi dekat Yerevan. Defence Ministry of Armenia/Handout via REUTERS


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - YEREVAN. Armenia mengklaim telah menembak jatuh empat drone di provinsi dekat Yerevan. Hal itu diungkapkan oleh Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan pada Kamis (1/10/2020).

Mengutip Reuters, seorang saksi mata di kota itu melihat sejumlah benda bercahaya di langit di tengah bentrokan dengan Azerbaijan.

Menurut Pashinyan di media sosial, empat drone muncul di wilayah udara Armenia di provinsi Kotayk dan Gegharkunik, dan pasukan pertahanan udara Armenia telah menghancurkan mereka. Dia menuliskan hal tersebut di media sosial ketika konflik dengan Azerbaijan berkecamuk untuk hari kelima.

Tudingan genosida

Selain itu, Pashinyan juga menuduh Turki kembali melakukan aksi genosida dengan mengatakan militer Ankara secara langsung memimpin serangan oleh pasukan Azeri terhadap pasukan etnis Armenia di sekitar Nagorno-Karabakh.

Baca Juga: Rusia: Para pejuang Suriah dan Libya dikerahkan ke konflik Azerbaijan vs Armenia

Dalam perang tersebut, puluhan orang telah dilaporkan tewas dan ratusan lainnya cedera sejak Minggu dalam pertempuran sengit. Hal ini telah memperbaharui kekhawatiran tentang stabilitas di Kaukasus Selatan, koridor jaringan pipa yang menyalurkan minyak dan gas ke pasar dunia.

Presiden Prancis, Rusia dan Amerika Serikat pada Kamis menyerukan gencatan senjata antara Azerbaijan dan pasukan etnis Armenia di sekitar Nagorno-Karabakh. Akan tetapi menurut Turki, sekutu Azeri, tiga kekuatan besar seharusnya tidak memiliki peran dalam gerakan perdamaian.

Baca Juga: Semakin membara, Azerbaijan sebut Armenia gunakan sistem rudal taktis Tochka-U

“Situasinya jauh lebih serius (dibandingkan bentrokan sebelumnya pada 2016). Akan lebih tepat untuk membandingkannya dengan apa yang terjadi pada tahun 1915, ketika lebih dari 1,5 juta orang Armenia dibantai selama genosida pertama abad ke-20," kata Pashinyan kepada surat kabar Le Figaro dalam sebuah wawancara yang diterbitkan Kamis malam.

"Negara Turki, yang terus menyangkal perbuatan masa lalu, sekali lagi merambah jalan genosida," tambahnya.

Baca Juga: Perang Azerbaijan vs Armenia bikin Prancis dan Turki berselisih

Melansir Reuters, Turki membantah pernyataan tersebut. Turki mengakui bahwa banyak warga Armenia yang hidup di zaman Kekaisaran Ottoman terbunuh dalam bentrokan dengan pasukan Ottoman selama Perang Dunia Pertama. Namun Turki membantah angka tersebut dan menyangkal bahwa pembunuhan itu diatur secara sistematis dan merupakan genosida.

 

Selanjutnya: Presiden Azerbaijan: Kami akan terus berjuang sampai Armenia hengkang dari tanah kami

 




TERBARU

[X]
×