kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 0   0   %

Perang Iran Dorong Harga Avtur Naik, Permintaan Jet Pribadi Justru Meningkat Tajam


Senin, 08 Juni 2026 / 17:01 WIB
Perang Iran Dorong Harga Avtur Naik, Permintaan Jet Pribadi Justru Meningkat Tajam
ILUSTRASI. Meskipun biaya avtur naik, jet pribadi justru mencatat rekor penggunaan baru. (KONTAN/Tantyo Anon Prasetya)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - LONDON/PARIS/GDANSK. Ketika lonjakan harga bahan bakar pesawat (avtur) akibat perang Iran mengguncang industri penerbangan global, kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi justru semakin sering menggunakan jet pribadi untuk menghadiri berbagai acara bergengsi dunia.

Fenomena ini terlihat pada sejumlah ajang internasional seperti Grand Prix Monaco, Festival Film Cannes, hingga berbagai kegiatan olahraga dan hiburan kelas dunia.

Di tengah kenaikan biaya perjalanan udara dan gangguan operasional maskapai komersial, kalangan eksekutif perusahaan, selebritas, hingga atlet profesional memilih moda transportasi yang dinilai lebih aman dan fleksibel.

Pengamat industri menilai tren tersebut menjadi cerminan dari fenomena ekonomi berbentuk "K" (K-shaped economy), yakni kondisi ketika kelompok berpendapatan tinggi terus meningkatkan pengeluarannya, sementara kelompok menengah dan bawah harus menekan konsumsi akibat tekanan ekonomi.

Sejak perang pecah pada akhir Februari, biaya bahan bakar jet tercatat meningkat hampir dua kali lipat. Kondisi ini memaksa banyak maskapai penerbangan membatalkan penerbangan dan menaikkan harga tiket.

Baca Juga: Beruang Masuk Permukiman, 94 Sekolah di Jepang Ditutup

Di saat yang sama, serangan rudal dan drone di kawasan Teluk menyebabkan volume penerbangan di wilayah yang selama ini menjadi salah satu pusat konektivitas global tersebut turun hampir 50%.

Pemilik perusahaan penyewaan jet pribadi Platoon Aviation, Deniz Weissenborn, mengatakan para pelanggannya relatif tidak terpengaruh oleh kenaikan biaya perjalanan.

"Dunia memang sedang bergejolak, tetapi tidak dengan para penumpang kami," ujar Weissenborn.

Ia menambahkan, "Jika Anda terbang menggunakan jet pribadi, saya rasa kenaikan biaya sebesar 1.000 hingga 2.000 euro bukanlah sesuatu yang menjadi masalah."

Data perusahaan analisis penerbangan WINGX menunjukkan jumlah penerbangan jet pribadi secara global meningkat sekitar 4% sepanjang tahun ini, setara dengan tambahan ribuan perjalanan. Sebaliknya, kapasitas penerbangan global secara keseluruhan justru turun sekitar 3% hingga 4%, berdasarkan data perusahaan analitik penerbangan Cirium.

Penumpang Kaya Beralih dari Kelas Bisnis ke Jet Pribadi

Pilot dan eksekutif industri penerbangan pribadi mengungkapkan bahwa permintaan layanan charter jet meningkat karena banyak pelancong kaya memilih meninggalkan kelas bisnis maupun kelas satu penerbangan komersial.

Mereka berupaya menghindari risiko pembatalan penerbangan, keterlambatan, maupun gangguan operasional bandara yang dipicu konflik geopolitik.

Pendiri sekaligus CEO Amalfi Jets, Kolin Jones, menyebut jumlah permintaan penerbangan menuju Festival Film Cannes tahun ini meningkat sekitar 25% dibandingkan tahun lalu. Sementara itu, permintaan penerbangan menuju Grand Prix Monaco naik hampir sepertiga.

Baca Juga: Investor Jepang Getol Jual Saham Global Capai Rp 270 Triliun, Terbesar Sejak 2021

"Banyak orang yang sebenarnya mampu menggunakan jet pribadi tetapi sebelumnya memilih penerbangan komersial. Kini mereka bersedia membayar lebih mahal demi pilihan yang dianggap lebih aman," kata Jones.

Ia menambahkan, "Festival Film Cannes, Grand Prix Monaco, serta perjalanan terkait Piala Dunia dari Eropa ke Amerika Serikat menjadi pendorong utama permintaan."

Delapan eksekutif perusahaan jet pribadi yang diwawancarai Reuters menyebut bahwa meskipun lalu lintas penerbangan menuju Timur Tengah menurun akibat kekhawatiran keamanan ruang udara, permintaan perjalanan ke Eropa dan Amerika Serikat diperkirakan mendekati level rekor tahun ini.

Pilot jet pribadi Andy Spencer mengatakan aktivitas industri tersebut tetap sangat tinggi.

"Kesibukannya tetap sama seperti biasanya," ujarnya.

Data WINGX menunjukkan bahwa selama gelaran Super Bowl di California pada Februari lalu, lalu lintas jet pribadi di bandara sekitar lokasi acara mencapai tiga kali lipat dibandingkan hari normal. Sementara saat turnamen golf Masters di Augusta pada April, jumlah penerbangan jet pribadi melonjak hingga 10 kali lipat, dari kurang dari 50 penerbangan menjadi lebih dari 400 penerbangan.

CEO produsen jet pribadi asal Brasil, Embraer, Francisco Gomes Neto, mengatakan penggunaan armada oleh pelanggan terus mencetak rekor baru.

"Jam terbang pelanggan kami terus mencapai rekor tertinggi dari bulan ke bulan," ujarnya dalam pameran penerbangan eksekutif di Sao Paulo pada Mei lalu.

Keamanan Jadi Faktor Utama

Di sisi lain, penggunaan jet pribadi masih menjadi sasaran kritik berbagai kelompok lingkungan hidup dan aktivis pemerhati ketimpangan sosial.

Mereka menilai penggunaan jet pribadi mencerminkan kesenjangan ekonomi global yang semakin lebar serta memberikan dampak negatif terhadap lingkungan. Selain itu, sejumlah pihak menilai regulasi terhadap industri penerbangan pribadi masih terlalu longgar.

Baca Juga: Industri Penerbangan Global Pangkas Proyeksi Laba 2026 Akibat Konflik Timur Tengah

Namun, Asosiasi Penerbangan Bisnis Eropa (European Business Aviation Association) menegaskan bahwa sektor ini memiliki peran penting dalam mendukung konektivitas di Eropa. Menurut mereka, kritik yang dilontarkan terhadap industri jet pribadi sering kali terlalu menyederhanakan persoalan.

Sementara itu, produsen pesawat dan operator charter berpendapat bahwa meningkatnya penggunaan jet pribadi lebih didorong oleh kebutuhan akan rasa aman di tengah situasi global yang tidak menentu.

Pemilik Silver Air Private Jets, Jason Middleton, mengatakan setiap kali terjadi gejolak dunia, permintaan terhadap penerbangan pribadi selalu meningkat.

"Setiap kali ada peristiwa besar dunia, industri penerbangan pribadi selalu mendapat dorongan permintaan, selalu seperti itu," kata Middleton, merujuk pada perang Iran, pandemi Covid-19, hingga berbagai gejolak politik di Amerika Selatan.

Menurutnya, faktor utama yang dicari pelanggan adalah kendali atas perjalanan mereka sendiri.

"Ini berkaitan dengan rasa aman. Orang merasa lebih aman ketika mereka memiliki kendali," tutupnya.




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×