Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID – Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran memasuki hari keempat pada Selasa (3/3/2026), ditandai ledakan yang mengguncang Teheran dan Beirut serta gejolak di pasar keuangan global akibat ancaman gangguan pasokan energi dunia.
Serangan udara yang dipimpin Washington dan Tel Aviv terhadap target-target strategis Iran memicu eskalasi regional yang lebih luas.
Drone Iran dilaporkan menghantam Kedutaan Besar AS di Arab Saudi menyebabkan kerusakan ringan dan kebakaran, setelah sebelumnya menyerang misi diplomatik AS di Kuwait.
Baca Juga: EPFO Tahan Bunga 8,25%, Strategi Aman di Tengah Ketidakpastian Global
Pemerintah AS kemudian menutup kedua misi tersebut dan memerintahkan evakuasi staf non-esensial beserta keluarga mereka dari sejumlah negara di Timur Tengah.
Sehari setelah Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memberikan jawaban terbuka mengenai durasi perang, seorang sumber yang mengetahui rencana militer Israel mengatakan kampanye tersebut awalnya dirancang berlangsung dua pekan, namun berjalan lebih cepat dari perkiraan.
Menurut sumber tersebut, tujuan utama Israel adalah menggulingkan kepemimpinan ulama Iran.
Meski tidak ada tenggat waktu pasti, militer Israel disebut telah menghabiskan daftar target lebih cepat dari rencana awal, termasuk menewaskan para pemimpin senior Iran dan melumpuhkan sistem pertahanan mereka.
Israel juga disebut mempercepat operasi karena khawatir Washington dapat menyetujui penghentian konflik sebelum tujuan strategisnya tercapai.
Di dalam negeri, Iran diguncang serangan ke markas besar penyiaran negara IRIB di Teheran. Warga berbondong-bondong meninggalkan kota-kota besar melalui jalan raya yang macet.
“Berapa lama ini akan berlangsung? Di mana tempat perlindungan? Di mana pemerintah?” ujar Bijan (32), pegawai bank di Teheran, kepada Reuters melalui sambungan telepon.
“Setiap malam saya dan istri bersembunyi di ruang bawah tanah. Kota ini kosong. Asap dan darah ada di mana-mana.”
Baca Juga: Inflasi Toko Inggris Melandai, Tekanan Biaya Hidup Belum Usai
Korban Tewas Mendekati 800 Orang
Iran menyebut perang ini sebagai serangan tanpa provokasi. Teheran membalas dengan menembakkan rudal dan drone ke sejumlah negara Arab tetangga serta memperketat jalur pelayaran di Selat Hormuz jalur vital yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.
Qatar, salah satu eksportir LNG terbesar dunia, menghentikan produksi, sementara kapal-kapal tanker memilih berlabuh di Teluk daripada melintasi Selat Hormuz.
Biaya sewa tanker untuk mengirim minyak dari Timur Tengah ke Asia melonjak hampir empat kali lipat sejak pekan lalu, menembus rekor lebih dari US$ 400.000 per hari.
Kampanye militer AS-Israel pada hari pertama perang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Jika tujuan menggulingkan sistem pemerintahan Iran tercapai hanya melalui kekuatan udara tanpa pengerahan pasukan darat, hal itu akan menjadi preseden baru dalam sejarah modern.
Baca Juga: Belanja Modal Jepang Naik, Ekonomi Masih Tersendat
Sejak Senin, konflik meluas ke Lebanon, setelah kelompok Hizbullah yang didukung Iran menembakkan roket ke Israel. Israel membalas dengan serangan udara dan memperkuat posisi pasukan darat di wilayah selatan.
Asap hitam pekat menyelimuti Beirut, dengan otoritas setempat melaporkan puluhan korban jiwa.
Iran menyatakan jumlah korban tewas akibat serangan telah mencapai 787 orang, mengutip data dari Bulan Sabit Merah.
Media pemerintah menayangkan ratusan warga di kota selatan Minab yang berkabung atas tewasnya puluhan siswi dalam pemboman sebuah sekolah perempuan pada hari pertama perang.
Kantor HAM PBB menyerukan penyelidikan atas serangan tersebut dan menyebutnya “sangat mengerikan”.
Meski sebagian warga Iran secara terbuka merayakan kematian Khamenei, yang telah berkuasa selama 37 tahun, gelombang pemboman tanpa henti memicu ketakutan luas bahkan di kalangan yang menginginkan perubahan politik.
Baca Juga: Arab Saudi Kutuk Serangan Iran Terhadap Kedutaan AS di Riyadh
Pasar Global Bergejolak
Pasar keuangan global merespons dengan aksi jual besar-besaran. Harga minyak mentah melonjak 15% dalam dua hari terakhir, sementara harga gas grosir Eropa naik 40%.
Indeks STOXX 600 Eropa turun 3% pada awal perdagangan setelah melemah 1,7% sehari sebelumnya.
Bursa Korea Selatan yang sangat bergantung pada impor energi anjlok lebih dari 7%. Kontrak berjangka saham AS juga turun 2%, mengindikasikan tekanan akan berlanjut di Wall Street.
Lonjakan harga energi memunculkan kekhawatiran inflasi global kembali memanas, setelah sebelumnya mereda pasca pandemi.
Di sisi diplomatik, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan, Washington menyerang Iran setelah menilai Israel hampir melancarkan serangan sendiri. AS khawatir langkah Israel akan memicu pembalasan langsung Iran terhadap kepentingan Amerika.
“Kami tahu bahwa jika tidak bertindak lebih dulu sebelum mereka meluncurkan serangan itu, kami akan menghadapi korban yang lebih besar,” kata Rubio.
Baca Juga: Asuransi Cabut Perlindungan Risiko Perang, Pengiriman Minyak di Selat Hormuz Lumpuh
Netanyahu menyatakan perang ini “tidak akan berlangsung bertahun-tahun”, sementara Trump memperkirakan konflik bisa memakan waktu empat hingga lima pekan.
Namun keduanya tidak memberikan kerangka waktu pasti, membuka kemungkinan perang berkepanjangan.
Di Israel, sirene serangan udara terus berbunyi, memaksa jutaan warga berlindung di bunker. Di Tel Aviv, bangunan-bangunan bergetar saat sistem pertahanan udara mencegat rudal Iran.
Sementara itu, lalu lintas penerbangan global terganggu, dengan sejumlah bandara utama di Timur Tengah yang menjadi penghubung Asia, Eropa, dan Afrika ditutup akibat eskalasi konflik.













