Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
Sejak Senin, konflik meluas ke Lebanon, setelah kelompok Hizbullah yang didukung Iran menembakkan roket ke Israel. Israel membalas dengan serangan udara dan memperkuat posisi pasukan darat di wilayah selatan.
Asap hitam pekat menyelimuti Beirut, dengan otoritas setempat melaporkan puluhan korban jiwa.
Iran menyatakan jumlah korban tewas akibat serangan telah mencapai 787 orang, mengutip data dari Bulan Sabit Merah.
Media pemerintah menayangkan ratusan warga di kota selatan Minab yang berkabung atas tewasnya puluhan siswi dalam pemboman sebuah sekolah perempuan pada hari pertama perang.
Kantor HAM PBB menyerukan penyelidikan atas serangan tersebut dan menyebutnya “sangat mengerikan”.
Meski sebagian warga Iran secara terbuka merayakan kematian Khamenei, yang telah berkuasa selama 37 tahun, gelombang pemboman tanpa henti memicu ketakutan luas bahkan di kalangan yang menginginkan perubahan politik.
Baca Juga: Arab Saudi Kutuk Serangan Iran Terhadap Kedutaan AS di Riyadh
Pasar Global Bergejolak
Pasar keuangan global merespons dengan aksi jual besar-besaran. Harga minyak mentah melonjak 15% dalam dua hari terakhir, sementara harga gas grosir Eropa naik 40%.
Indeks STOXX 600 Eropa turun 3% pada awal perdagangan setelah melemah 1,7% sehari sebelumnya.
Bursa Korea Selatan yang sangat bergantung pada impor energi anjlok lebih dari 7%. Kontrak berjangka saham AS juga turun 2%, mengindikasikan tekanan akan berlanjut di Wall Street.
Lonjakan harga energi memunculkan kekhawatiran inflasi global kembali memanas, setelah sebelumnya mereda pasca pandemi.
Di sisi diplomatik, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan, Washington menyerang Iran setelah menilai Israel hampir melancarkan serangan sendiri. AS khawatir langkah Israel akan memicu pembalasan langsung Iran terhadap kepentingan Amerika.
“Kami tahu bahwa jika tidak bertindak lebih dulu sebelum mereka meluncurkan serangan itu, kami akan menghadapi korban yang lebih besar,” kata Rubio.
Baca Juga: Asuransi Cabut Perlindungan Risiko Perang, Pengiriman Minyak di Selat Hormuz Lumpuh
Netanyahu menyatakan perang ini “tidak akan berlangsung bertahun-tahun”, sementara Trump memperkirakan konflik bisa memakan waktu empat hingga lima pekan.
Namun keduanya tidak memberikan kerangka waktu pasti, membuka kemungkinan perang berkepanjangan.
Di Israel, sirene serangan udara terus berbunyi, memaksa jutaan warga berlindung di bunker. Di Tel Aviv, bangunan-bangunan bergetar saat sistem pertahanan udara mencegat rudal Iran.
Sementara itu, lalu lintas penerbangan global terganggu, dengan sejumlah bandara utama di Timur Tengah yang menjadi penghubung Asia, Eropa, dan Afrika ditutup akibat eskalasi konflik.













