Sumber: The Times | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Ada tiga skenario: “perang pilihan” setelah kalkulasi matang; “perang kebutuhan” jika Taiwan dianggap melanggar garis merah (misalnya deklarasi kemerdekaan); atau konflik akibat kecelakaan/miskalkulasi yang lepas kendali,yang justru dinilai paling mungkin.
China telah mengerahkan latihan gabungan PLA dan coast guard yang makin termiliterisasi. Pembangunan kapal amfibi khusus yang mampu membawa tank dan logistik melalui medan sulit dinilai bisa membuka banyak front serangan dan melemahkan pertahanan Taiwan. Strategi yang diperkirakan adalah serangan besar-besaran dengan peringatan minimal, termasuk gelombang drone udara dan laut.
Opsi lain, yakni serangan bedah terhadap pimpinan Taiwan, dinilai kontraproduktif. Berbeda dengan Venezuela, Taiwan adalah demokrasi mapan; upaya menyingkirkan pemimpin terpilih justru berpotensi menyatukan publik melawan Beijing.
Tonton: Ini Alasan Chery J6T Lebih Layak Dibeli dari Versi Lama
Bagaimana dampaknya?
Aksi China terhadap Taiwan akan memicu krisis global: respons militer Taiwan, dilema AS apakah turun tangan, gangguan perdagangan dunia, dan sanksi Eropa terhadap Beijing. Jepang telah menyatakan serangan ke Taiwan sebagai ancaman eksistensial bagi kawasan dan berpeluang ikut campur.
Konflik ini berisiko eskalasi antara dua kekuatan nuklir, AS dan China. Meski China unggul besar dari Taiwan secara militer, AS terikat Undang-Undang Hubungan Taiwan untuk membantu pertahanan pulau tersebut, meski di Taipei kian muncul keraguan apakah Trump akan intervensi militer langsung. Jika terjadi, invasi ini akan menjadi salah satu peristiwa paling berbahaya dan menentukan abad ke-21.
Kesimpulan
Kemungkinan invasi China ke Taiwan belum pasti dari sisi waktu, tetapi indikator militernya makin jelas dan risiko salah hitung kian meningkat. Meski Beijing tampaknya masih mengutamakan tekanan tanpa perang terbuka, latihan intensif, persiapan logistik, dan narasi hukum menunjukkan kesiapan yang serius. Di sisi lain, Taiwan memperkuat pertahanan asimetrisnya sambil menghadapi ketidakpastian komitmen AS. Jika konflik pecah, dampaknya akan jauh melampaui kawasan, mengguncang tatanan global, perdagangan dunia, dan stabilitas antara dua kekuatan nuklir.













