Sumber: The Times | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - "Penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan AS pada Sabtu lalu berisiko merobek sisa-sisa terakhir norma internasional dan bisa mendorong rezim otoriter melakukan agresi baru tanpa takut konsekuensi," tulis Charlie Campbell di Time.
Kecemasan pun meningkat bahwa China bisa bertindak serupa terhadap para pemimpin regional yang dianggap bermasalah, terutama Taiwan.
Ketua Komite Urusan Luar Negeri Inggris, Emily Thornberry, memperingatkan bahwa minimnya kecaman internasional atas aksi AS di Venezuela serta ancaman intervensi di negara lain bisa menyemangati China dan Rusia untuk melangkah lebih jauh.
Seberapa besar kemungkinan invasi?
Meski ketegangan lintas Selat Taiwan meningkat tajam sepanjang setahun terakhir, para ahli masih berbeda pandangan soal kemungkinan dan waktu invasi China, menurut lembaga pemikir Council on Foreign Relations (CFR).
China dinilai melakukan agresi dan modernisasi militer yang belum pernah terjadi sebelumnya. Komandan Indo-Pasifik AS, Laksamana Samuel Paparo, mengatakan kepada Kongres AS bahwa latihan China di sekitar Taiwan bukan sekadar latihan, melainkan gladi bersih.
Baca Juga: Harga Perak Melonjak ke US$ 80, Inilah Negara Pemilik Cadangan Terbesar
Pada akhir Desember, Beijing menggelar latihan perang besar-besaran yang mengepung Taiwan sepenuhnya, mencakup kesiapsiagaan tempur, simulasi blokade pelabuhan, tembakan langsung, serta serangan darat dan laut. China menyebut latihan ini sebagai “peringatan keras” terhadap separatis dan campur tangan asing, setelah pemerintahan Trump mengumumkan paket penjualan senjata senilai US$11,1 miliar ke Taipei.
Data Kementerian Pertahanan Taiwan menunjukkan pelanggaran garis tengah Selat Taiwan melonjak dari 953 kejadian pada 2021 menjadi 3.070 pada 2024. China juga menimbun emas dalam jumlah besar, diduga sebagai antisipasi sanksi Barat jika terjadi konflik, serta membangun landasan hukum untuk membingkai serangan sebagai urusan domestik.
Aksi AS di Caracas turut dijadikan pembanding di media sosial China. Banyak warganet bertanya: jika AS bisa menangkap pemimpin negara berdaulat secara sepihak, apa yang menghalangi China bertindak terhadap wilayah yang dianggapnya sebagai provinsi pembangkang?
Kapan invasi bisa terjadi?
Paparo menyebut PLA sedang “memanaskan mesin” untuk mencapai target kesiapan Presiden Xi Jinping, mampu merebut Taiwan dengan kekuatan militer pada 2027, tahun simbolis seratus tahun berdirinya PLA. Namun, sebagian analis menilai preseden terbaru tidak serta-merta mempercepat invasi. Untuk saat ini, China dinilai masih memilih strategi tekanan dan pemaksaan tanpa perang terbuka.
Taiwan sendiri tidak tinggal diam. Presiden Lai Ching-te mendorong reformasi militer besar, memperluas wajib militer, meningkatkan kesejahteraan prajurit, dan memperketat pelatihan. Pemerintah juga mengumumkan paket keamanan US$ 40 miliar, termasuk pengembangan sistem pertahanan udara ala Iron Dome dan pemanfaatan AI serta drone, dengan target belanja pertahanan 5% PDB pada 2030.
Baca Juga: Krisis Harga 2025: Negara Ini Terjebak Inflasi 269%
Sebagian analis melihat 2049, target “Mimpi Xi” sebagai tenggat krusial unifikasi.
Bagaimana invasi bisa dimulai?
Ada tiga skenario: “perang pilihan” setelah kalkulasi matang; “perang kebutuhan” jika Taiwan dianggap melanggar garis merah (misalnya deklarasi kemerdekaan); atau konflik akibat kecelakaan/miskalkulasi yang lepas kendali,yang justru dinilai paling mungkin.
China telah mengerahkan latihan gabungan PLA dan coast guard yang makin termiliterisasi. Pembangunan kapal amfibi khusus yang mampu membawa tank dan logistik melalui medan sulit dinilai bisa membuka banyak front serangan dan melemahkan pertahanan Taiwan. Strategi yang diperkirakan adalah serangan besar-besaran dengan peringatan minimal, termasuk gelombang drone udara dan laut.
Opsi lain, yakni serangan bedah terhadap pimpinan Taiwan, dinilai kontraproduktif. Berbeda dengan Venezuela, Taiwan adalah demokrasi mapan; upaya menyingkirkan pemimpin terpilih justru berpotensi menyatukan publik melawan Beijing.
Tonton: Ini Alasan Chery J6T Lebih Layak Dibeli dari Versi Lama
Bagaimana dampaknya?
Aksi China terhadap Taiwan akan memicu krisis global: respons militer Taiwan, dilema AS apakah turun tangan, gangguan perdagangan dunia, dan sanksi Eropa terhadap Beijing. Jepang telah menyatakan serangan ke Taiwan sebagai ancaman eksistensial bagi kawasan dan berpeluang ikut campur.
Konflik ini berisiko eskalasi antara dua kekuatan nuklir, AS dan China. Meski China unggul besar dari Taiwan secara militer, AS terikat Undang-Undang Hubungan Taiwan untuk membantu pertahanan pulau tersebut, meski di Taipei kian muncul keraguan apakah Trump akan intervensi militer langsung. Jika terjadi, invasi ini akan menjadi salah satu peristiwa paling berbahaya dan menentukan abad ke-21.
Kesimpulan
Kemungkinan invasi China ke Taiwan belum pasti dari sisi waktu, tetapi indikator militernya makin jelas dan risiko salah hitung kian meningkat. Meski Beijing tampaknya masih mengutamakan tekanan tanpa perang terbuka, latihan intensif, persiapan logistik, dan narasi hukum menunjukkan kesiapan yang serius. Di sisi lain, Taiwan memperkuat pertahanan asimetrisnya sambil menghadapi ketidakpastian komitmen AS. Jika konflik pecah, dampaknya akan jauh melampaui kawasan, mengguncang tatanan global, perdagangan dunia, dan stabilitas antara dua kekuatan nuklir.













