kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Perdana Menteri Li: China ingin bekerjasama dengan Uni Eropa dalam perdagangan


Senin, 08 April 2019 / 11:45 WIB

Perdana Menteri Li: China ingin bekerjasama dengan Uni Eropa dalam perdagangan

KONTAN.CO.ID - BERLIN. China ingin bekerjasama dengan Uni Eropa dalam berbagai isu, mulai dari perubahan iklim hingga perdagangan. 

Mengutip Reuters, Perdana Menteri Li Keqiang dalam surat kabar Jerman menyatakan, kerjasama ini bertujuan untuk mempererat hubungan.


Dalam sebuah kolom untuk edisi Handelsblatt edisi Senin yang ringkasannya dirilis pada Minggu, Perdana Menteri China membantah tuduhan bahwa China sedang mencoba untuk memecah blok dengan berinvestasi di negara-negara Eropa Timur.

"Kami sangat mendukung proses integrasi Eropa dengan harapan Eropa yang bersatu dan makmur,"tulis Li.

Dia mengatakan, kerjasama erat Beijing dengan negara-negara Eropa Timur adalah menguntungkan untuk pembangunan yang seimbang di Uni Eropa.

Khawatir dengan potensi dominasi China terhadap industri-industri strategis Eropa, Uni Eropa berusaha membujuk China untuk membuka pasarnya dan telah berupaya membuatnya berkomitmen untuk menghilangkan penghalang perdagangan yang tidak adil.

Li menulis bahwa China siap untuk bekerjasama dengan Eropa dalam menegakkan Perjanjian Iklim Paris, mendukung pembangunan berkelanjutan, mempertahankan perjanjian nuklir internasional dengan Iran dan memerangi terorisme.

Dia juga mengatakan ingin bertugas pandangan tentang reformasi WTO.  

Para diplomat di Brussels mengatakan bahwa ketegangan perdagangan, investasi dan hak-hak minoritas mengartikan bahwa China dan Uni Eropa mungkin gagal menyetujui deklarasi bersama pada KTT yang akan digelar 9 April besok. Hal ini akan menghambat upaya Eropa untuk mendapat akses yang lebih besar ke pasar China.

Uni Eropa adalah mitra dagang terbesar China. Peningkatan pengambilalihan China di sektor-sektor penting di Eropa dan kesan di Brussels bahwa China belum menepati janjinya untuk perdagangan bebas telah memperumit pembicaraan sebelum KTT.


Sumber : Reuters
Editor: Herlina Kartika

Video Pilihan


Close [X]
×