Peringatan dari Studi Terbaru: Covid-19 Bisa Menyebabkan Otak Menyusut

Selasa, 08 Maret 2022 | 14:48 WIB Sumber: Reuters
Peringatan dari Studi Terbaru: Covid-19 Bisa Menyebabkan Otak Menyusut

ILUSTRASI. Covid-19 bisa menyebabkan otak menyusut, menurut sebuah studi Universitas Oxford.


KONTAN.CO.ID - Covid-19 bisa menyebabkan otak menyusut, mengurangi materi abu-abu di daerah yang mengontrol emosi dan memori, dan merusak area yang mengontrol indera penciuman, menurut sebuah studi Universitas Oxford.

Para ilmuwan mengatakan, efek Covid-19 bahkan terlihat pada orang yang tidak dirawat di rumahsakit. Apakah dampaknya bisa pulih sebagian atau bertahan dalam jangka panjang, itu memerlukan penelitian lebih lanjut.

"Ada bukti kuat untuk kelainan terkait otak pada pasien Covid-19," kata para peneliti dalam studi mereka yang rilis Senin (7/3), seperti dikutip Reuters.

Bahkan dalam kasus ringan, peserta dalam penelitian menunjukkan, "pemburukan fungsi eksekutif" yang bertanggungjawab untuk fokus dan pengorganisasian, dan ukuran otak rata-rata menyusut 0,2% hingga 2%.

Baca Juga: Temuan Terbaru Ini Bisa Bantu Prediksi Pasien Covid-19 yang akan Alami Sakit Parah

Studi peer-review, yang terbit dalam jurnal Nature, menyelidiki perubahan otak pada 785 peserta berusia 51-81 tahun yang otaknya dipindai dua kali, termasuk 401 orang yang tertular Covid-19. Pemindaian kedua rata-rata 141 hari setelah pemindaian pertama.

Penelitian berlangsung ketika varian Alpha dominan di Inggris dan tidak mungkin melibatkan siapa pun yang terinfeksi varian Delta.

Studi menemukan beberapa orang yang menderita Covid-19 menderita "kabut otak" atau kekeruhan mental yang mencakup gangguan perhatian, konsentrasi, kecepatan pemrosesan informasi, dan memori.

Para peneliti tidak mengatakan, apakah vaksinasi berdampak pada kondisi tersebut. 

Tapi, Badan Keamanan Kesehatan Inggris menyatakan bulan lalu, tinjauan terhadap 15 penelitian menemukan, orang yang divaksinasi, sekitar setengahnya lebih mungkin mengembangkan gejala Covid-19 yang lama dibanding yang tidak divaksinasi.

Editor: S.S. Kurniawan

Terbaru