Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Iran memperingatkan dunia agar bersiap menghadapi lonjakan harga minyak hingga US$200 per barel, seiring meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah yang memicu gangguan besar pada pasokan energi global.
Peringatan itu disampaikan setelah pasukan Iran menyerang sejumlah kapal dagang pada Rabu (11/3/2026), sementara International Energy Agency (IEA) mengusulkan pelepasan cadangan minyak strategis dalam jumlah besar untuk meredam salah satu guncangan harga minyak terburuk sejak krisis energi 1970-an.
Melansir Reuters, konflik yang dipicu serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran hampir dua pekan lalu telah menewaskan sekitar 2.000 orang, sebagian besar warga Iran dan Lebanon. Perang tersebut juga meluas ke wilayah Lebanon serta mengguncang pasar energi dan transportasi global.
Meski Pentagon menyebut serangan udara yang dilakukan sebagai yang paling intens sejak perang dimulai, Iran masih mampu melancarkan serangan balasan. Pada Rabu, Iran kembali menembakkan serangan ke Israel dan sejumlah target di kawasan Timur Tengah.
Di perairan Teluk, tiga kapal dilaporkan terkena serangan proyektil. Pasukan Garda Revolusi Iran menyatakan pihaknya menembaki kapal yang disebut tidak mematuhi perintah mereka.
Presiden AS Donald Trump juga mengisyaratkan bahwa konflik belum akan berakhir dalam waktu dekat. Dalam sebuah rapat umum di Kentucky, Trump menyatakan Amerika Serikat tidak ingin menghentikan operasi militer terlalu cepat.
“Kita harus menyelesaikan pekerjaan ini,” ujar Trump.
Baca Juga: Klaim Trump: AS Menang Perang Iran, Ini Buktinya!
Ia juga mengklaim pasukan AS telah menghancurkan 58 kapal angkatan laut Iran dan memperkirakan harga minyak pada akhirnya akan turun.
Di sisi lain, laporan media menyebut Federal Bureau of Investigation (FBI) memperingatkan potensi ancaman drone Iran terhadap pantai barat Amerika Serikat. Namun Trump mengatakan dirinya tidak terlalu khawatir terhadap kemungkinan serangan Iran di wilayah AS.
Departemen Luar Negeri AS juga memperingatkan bahwa Iran dan kelompok milisi sekutunya kemungkinan menargetkan infrastruktur energi milik AS di Irak.
Tujuan utama operasi militer AS dan Israel, menurut pejabat kedua negara, adalah menghentikan kemampuan Iran memproyeksikan kekuatan militernya ke luar negeri serta menghancurkan program nuklir negara tersebut.
Ketegangan ini memicu gejolak pasar energi. Harga minyak yang sempat mendekati US$120 per barel pada awal pekan kemudian stabil di sekitar US$ 90, tetapi kembali naik hampir 5% pada Rabu akibat kekhawatiran gangguan pasokan.
Baca Juga: Selat Hormuz Memanas: Iran Pasang Selusin Ranjau, Harga Minyak Melonjak
Pada saat yang sama, indeks saham utama di Wall Street justru melemah seiring meningkatnya ketidakpastian global.
Konflik juga menyebabkan sejumlah kota dan pelabuhan di kawasan Teluk menjadi sasaran serangan drone dan rudal Iran. Situasi ini mendorong berbagai negara, termasuk Turki dan sejumlah negara di Eropa, untuk menyerukan penghentian perang.
Selat Hormuz terancam blokade
Hingga kini belum ada tanda bahwa kapal dapat melintas dengan aman di Selat Hormuz, jalur pelayaran penting di sepanjang pantai Iran yang menjadi rute sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Juru bicara militer Iran bahkan menyatakan bahwa selat tersebut “tanpa diragukan lagi” berada di bawah kendali Iran.
Kelompok negara maju G7 yang terdiri dari AS, Kanada, Jepang, Italia, Inggris, Jerman, dan Prancis sepakat untuk mempertimbangkan opsi pengawalan kapal agar pelayaran di Teluk dapat kembali berjalan.
Namun sumber menyebut Iran telah menempatkan sekitar selusin ranjau laut di jalur tersebut, sehingga semakin memperumit situasi keamanan di kawasan.
Militer AS juga memperingatkan warga Iran agar menjauhi pelabuhan yang memiliki fasilitas angkatan laut Iran. Pihak militer Iran kemudian membalas dengan peringatan bahwa jika pelabuhan mereka diserang, pusat perdagangan dan ekonomi di kawasan akan menjadi “target yang sah”.













