Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah pemerintah Arab Saudi menyampaikan peringatan keras kepada Iran terkait serangan yang menyasar wilayah kerajaan dan sektor energinya.
Menurut empat sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut, Riyadh menegaskan bahwa meskipun mereka lebih memilih penyelesaian konflik antara Iran dan Amerika Serikat melalui jalur diplomatik, serangan berkelanjutan terhadap wilayah Saudi dan fasilitas energi dapat memaksa kerajaan untuk memberikan respons setimpal.
Pesan itu disampaikan sebelum pidato Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Sabtu, di mana ia menyampaikan permintaan maaf kepada negara-negara Teluk atas tindakan Iran yang sebelumnya memicu kemarahan regional setelah serangan yang juga mengenai target sipil.
Dua hari sebelumnya, Menteri Luar Negeri Saudi Faisal bin Farhan melakukan pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi dan menyampaikan posisi Riyadh secara tegas.
Dalam komunikasi tersebut, Arab Saudi menyatakan terbuka terhadap segala bentuk mediasi yang bertujuan meredakan ketegangan dan mencapai penyelesaian melalui negosiasi. Riyadh juga menegaskan bahwa baik Arab Saudi maupun negara-negara Teluk lainnya tidak mengizinkan Amerika Serikat menggunakan wilayah udara atau teritorinya untuk melancarkan serangan udara terhadap Iran.
Namun, Faisal bin Farhan juga memperingatkan bahwa jika serangan Iran terus berlanjut terhadap wilayah Saudi atau infrastruktur energi strategisnya, Riyadh dapat terpaksa mengizinkan pasukan Amerika Serikat menggunakan pangkalan militer di negara tersebut untuk operasi militer. Arab Saudi juga menyatakan siap melakukan pembalasan jika fasilitas energi vitalnya kembali menjadi target.
Sumber-sumber tersebut menambahkan bahwa kerajaan tetap menjalin komunikasi rutin dengan Teheran melalui duta besarnya sejak kampanye militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari, menyusul runtuhnya perundingan mengenai program nuklir Iran.
Kementerian luar negeri Arab Saudi dan Iran belum memberikan tanggapan resmi atas permintaan komentar terkait informasi tersebut.
Serangan Drone dan Rudal ke Negara Teluk
Dalam sepekan terakhir, sejumlah negara Teluk seperti Uni Emirat Arab, Kuwait, Qatar, Bahrain, dan Arab Saudi dilaporkan menjadi sasaran serangan drone dan rudal dari Iran.
Konflik semakin memanas setelah Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dilaporkan tewas pada hari pertama perang. Sebagai respons, Teheran melancarkan serangan ke Israel dan sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat. Israel kemudian juga menyerang kelompok bersenjata Hezbollah yang didukung Iran di Lebanon.
Dalam wawancara pada Sabtu, Abbas Araqchi mengatakan bahwa dirinya terus menjalin komunikasi dengan mitranya di Arab Saudi serta pejabat Saudi lainnya. Ia menambahkan bahwa Riyadh telah meyakinkan Teheran bahwa wilayah darat, laut, maupun udara Arab Saudi tidak akan digunakan untuk menyerang Iran.
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa dewan kepemimpinan sementara Iran telah menyetujui penghentian sementara serangan terhadap negara-negara tetangga, kecuali jika serangan terhadap Iran berasal dari negara-negara tersebut.
"Saya secara pribadi meminta maaf kepada negara-negara tetangga yang terdampak oleh tindakan Iran," kata Pezeshkian.
Namun, belum jelas sejauh mana pernyataan tersebut mencerminkan perubahan kebijakan Iran. Pada hari yang sama masih muncul laporan mengenai serangan yang diarahkan ke negara-negara Teluk.
Perbedaan Sikap di Internal Iran
Indikasi perbedaan sikap juga muncul di dalam kepemimpinan Iran. Markas Komando Pusat Khatam al-Anbiya Central Headquarters—yang merupakan komando gabungan militer Iran—menyatakan bahwa pangkalan dan kepentingan Amerika Serikat serta Israel di seluruh kawasan tetap menjadi target militer.
Dalam pernyataannya, komando tersebut menyatakan bahwa angkatan bersenjata Iran menghormati kedaulatan negara-negara tetangga dan sejauh ini tidak menargetkan mereka secara langsung.
Namun, seluruh pangkalan militer Amerika Serikat dan Israel di darat, laut, maupun udara di kawasan Timur Tengah akan diperlakukan sebagai target utama dan dapat menghadapi serangan "kuat dan besar" dari pasukan Iran.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan menyebut dalam unggahan media sosial bahwa Iran telah "meminta maaf dan menyerah kepada para tetangganya di Timur Tengah" serta berjanji tidak akan lagi menembaki mereka. Ia menilai janji tersebut muncul akibat tekanan dari serangan tanpa henti oleh Amerika Serikat dan Israel.
Dua sumber dari Iran juga mengonfirmasi adanya komunikasi telepon di mana Arab Saudi memperingatkan Teheran agar menghentikan serangan terhadap Saudi dan negara-negara Teluk lainnya.
Iran menegaskan bahwa serangan yang dilakukan sebenarnya ditujukan kepada kepentingan dan pangkalan militer Amerika Serikat yang berada di wilayah negara-negara tersebut, bukan kepada negara-negara Teluk itu sendiri.
Salah satu sumber Iran mengatakan Teheran menuntut agar pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan ditutup dan beberapa negara Teluk menghentikan berbagi intelijen dengan Washington, yang diyakini Iran digunakan untuk melancarkan serangan terhadapnya.
Sumber Iran lainnya menyebutkan bahwa sejumlah komandan militer mendesak agar serangan tetap dilanjutkan. Mereka menuduh Amerika Serikat menggunakan pangkalan militer di negara-negara Teluk serta wilayah udara mereka untuk menjalankan operasi terhadap Iran.
Padahal dalam beberapa tahun terakhir, Iran sempat memperbaiki hubungan diplomatik dengan sejumlah negara Teluk, termasuk Arab Saudi yang sebelumnya merupakan rival regional utama. Namun, upaya rekonsiliasi tersebut runtuh setelah gelombang serangan drone dan rudal yang diluncurkan oleh Garda Revolusi Iran dalam sepekan terakhir.













