Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - Warren Buffett menutup era kepemimpinannya di Berkshire Hathaway setelah lebih dari enam dekade mengubah perusahaan tekstil yang tengah kesulitan menjadi salah satu konglomerasi terbesar di dunia.
Buffett, 96 tahun, mundur dari posisi ketua dan kini menyandang gelar ketua emeritus. Ia tetap menjadi anggota dewan direksi dan masih akan memberikan pandangan kepada perusahaan, meski tidak lagi memegang tanggung jawab eksekutif.
Perjalanan Buffett di Berkshire dimulai pada 1965. Saat itu, ia mengambil alih perusahaan tekstil yang berbasis di New England setelah berselisih dengan manajemen sebelumnya.
Upaya mempertahankan bisnis tekstil tersebut berlangsung sekitar dua dekade sebelum akhirnya ditutup pada 1985.
Baca Juga: Warren Buffett Berusia 96 Tahun, Kini Jadi Chairman Emeritus Berkshire Hathaway
Namun, kegagalan bisnis tekstil justru menjadi titik awal transformasi Berkshire. Buffett mulai mengalihkan modal perusahaan ke bisnis yang memiliki prospek lebih baik, terutama sektor asuransi.
Pada 1967, Berkshire mengakuisisi National Indemnity. Bisnis asuransi kemudian menjadi salah satu sumber modal utama Berkshire melalui premi yang dapat diinvestasikan kembali ke berbagai aset dan perusahaan.
Strategi tersebut berjalan beriringan dengan investasi pada perusahaan dengan bisnis yang relatif mudah dipahami. Berkshire mulai membeli saham Coca-Cola pada 1988 dan kemudian melakukan investasi besar di Gillette pada 1989.
Buffett juga menghadapi sejumlah krisis yang menguji perannya sebagai pemimpin. Pada 1991, ia turun langsung sebagai ketua sementara Salomon Brothers setelah skandal perdagangan mengancam keberlangsungan perusahaan sekaligus investasi Berkshire senilai US$ 700 juta.
Baca Juga: Warren Buffett Lepas Peran CEO, Sorotan Beralih ke Greg Abel di Berkshire
Memasuki akhir 1990-an, Berkshire memperluas bisnis asuransinya dengan mengambil alih GEICO dan mengakuisisi General Re. Perusahaan juga masuk lebih jauh ke sektor utilitas setelah mengambil kendali atas MidAmerican Energy pada 1999, yang kemudian menjadi Berkshire Hathaway Energy.
Strategi Buffett tidak hanya berfokus pada ekspansi bisnis. Pada 2006, ia berkomitmen menyumbangkan hampir seluruh saham Berkshire miliknya untuk kegiatan filantropi.
Sejak itu, lebih dari separuh saham tersebut telah disumbangkan, termasuk lebih dari US$ 47 miliar kepada Gates Foundation dan lebih dari US$ 17 miliar kepada empat yayasan amal keluarga.
Saat krisis keuangan global 2008, Berkshire kembali menunjukkan kemampuannya menyediakan modal ketika pasar sedang tertekan.
Perusahaan menginvestasikan US$ 5 miliar di Goldman Sachs pada September 2008. Tiga tahun kemudian, Berkshire kembali menanamkan US$ 5 miliar di Bank of America ketika bank tersebut menghadapi tekanan akibat akuisisi Countrywide Financial.
Berkshire juga memperbesar portofolio bisnis riilnya dengan mengakuisisi Burlington Northern Santa Fe pada 2010 senilai US$ 26,4 miliar.
Baca Juga: Warren Buffett Mundur dari Kursi Ketua Berkshire Hathaway, Digantikan Putranya
Salah satu investasi terbesar Buffett kemudian datang dari Apple. Berkshire mulai membeli saham Apple pada 2016 dengan nilai sekitar US$ 1 miliar.
Investasi yang awalnya relatif kecil itu berkembang menjadi salah satu, bahkan kemudian menjadi kepemilikan saham terbesar Berkshire pada akhir 2025.
Setelah periode transaksi yang relatif tenang, Berkshire kembali agresif pada 2022 dengan menggelontorkan puluhan miliar dolar untuk membeli saham, termasuk Chevron, HP Inc. dan Occidental Petroleum.
Pada 2024, nilai pasar Berkshire menembus US$ 1 triliun. Capaian tersebut menjadikan Berkshire sebagai perusahaan Amerika Serikat nonteknologi pertama yang mencapai nilai pasar tersebut.
Pada 1 Januari 2026, Buffett menyerahkan posisi CEO kepada Greg Abel. Pergantian tersebut menandai berakhirnya era Buffett sebagai eksekutif Berkshire, setelah perusahaan mencatatkan imbal hasil lebih dari 6.100.000% sejak Buffett mengambil alih pada 1965.
Baca Juga: Warren Buffett Siapkan Warisan untuk Anak-Anaknya, Akhiri Donasi ke Gates Foundation
Meski Buffett tidak lagi menjadi CEO, jejak strateginya tetap melekat pada Berkshire: mengubah sumber modal dari bisnis asuransi menjadi investasi, membeli perusahaan yang dipahami, dan memanfaatkan peluang ketika pasar berada dalam tekanan.














