CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.632.000   22.000   0,84%
  • USD/IDR 17.880   -62,00   -0,35%
  • IDX 6.340   108,24   1,74%
  • KOMPAS100 839   16,49   2,00%
  • LQ45 637   8,89   1,42%
  • ISSI 218   3,63   1,69%
  • IDX30 358   3,90   1,10%
  • IDXHIDIV20 444   3,51   0,80%
  • IDX80 96   1,59   1,69%
  • IDXV30 119   0,82   0,69%
  • IDXQ30 115   1,03   0,91%

Perjanjian Nuklir Terakhir AS–Rusia Bakal Berakhir, Masa Depan Pengendalian Tak Pasti


Kamis, 08 Januari 2026 / 12:48 WIB
Perjanjian Nuklir Terakhir AS–Rusia Bakal Berakhir, Masa Depan Pengendalian Tak Pasti
ILUSTRASI. Vladmimir Putin, Donald Trump (NULL/Sergey Bobly). Perjanjian nuklir terakhir antara Amerika Serikat (AS) dan Rusia, New START, akan berakhir pada 5 Februari mendatang.


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - LONDON. Perjanjian nuklir terakhir antara Amerika Serikat (AS) dan Rusia, New START, akan berakhir pada 5 Februari mendatang. Hingga kini, belum ada kepastian mengenai kelanjutan pengendalian senjata nuklir kedua negara yang menguasai mayoritas hulu ledak nuklir dunia.

Sejak era Perang Dingin, Washington dan Moskow secara konsisten menyepakati berbagai perjanjian untuk membatasi perlombaan senjata nuklir. 

Meski kerap berbeda pandangan dalam banyak isu, kedua negara menilai pengendalian senjata penting untuk menjaga stabilitas dan kepastian strategis. Kerangka tersebut terus dipertahankan sejak 1969 hingga lama setelah Uni Soviet bubar pada 1991.

Namun, situasi saat ini berbeda. Perang di Ukraina membuat hubungan AS dan Rusia memburuk, sementara pembicaraan mengenai perjanjian pengganti New START belum pernah dilakukan.

Baca Juga: Trump Kerahkan Kapal Selam Nuklir Usai Perang Kata-Kata dengan Pejabat Rusia

Pada September lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin mengusulkan agar kedua negara tetap mematuhi ketentuan New START selama 12 bulan ke depan. Perjanjian ini membatasi jumlah hulu ledak nuklir yang ditempatkan masing-masing negara maksimal 1.550 unit.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump hingga kini belum memberikan tanggapan resmi. Di kalangan analis keamanan Barat, usulan Rusia memicu perdebatan.

Sebagian menilai perpanjangan sementara itu dapat memberi waktu bagi kedua pihak untuk merumuskan langkah lanjutan sekaligus mengirim sinyal politik bahwa pengendalian senjata masih relevan. 

Namun, pihak lain khawatir langkah tersebut justru memberi ruang bagi Rusia untuk mengembangkan sistem senjata baru di luar cakupan New START, seperti rudal jelajah bertenaga nuklir Burevestnik dan torpedo nuklir Poseidon.

Baca Juga: Putin Isyaratkan Rusia Bersedia Tukar Wilayah dalam Kesepakatan dengan UkrainaMantan perencana pertahanan AS, Greg Weaver, dalam kajian untuk Atlantic Council, menyebut Rusia sejak 2023 menolak inspeksi bersama yang menjadi mekanisme utama verifikasi perjanjian. 

Ia juga menilai penerimaan usulan Putin dapat mengirim pesan kepada China bahwa Amerika Serikat tidak akan meningkatkan kekuatan nuklir strategisnya, meski arsenal nuklir Beijing berkembang pesat.

Sinyal tersebut, menurut Weaver, berpotensi melemahkan peluang melibatkan China dalam perundingan pengendalian senjata di masa depan.

Saat ini, Rusia dan Amerika Serikat masing-masing diperkirakan memiliki 5.459 dan 5.177 hulu ledak nuklir, atau sekitar 87% dari total persenjataan nuklir dunia. 

Sementara itu, China diperkirakan memiliki sekitar 600 hulu ledak, dan jumlah tersebut bisa melampaui 1.000 unit pada 2030, menurut perkiraan Pentagon.

Baca Juga: Drone Rusia Pecahkan Perisai Chernobyl, IAEA Warning: Bahaya di Depan Mata

Trump menyatakan ingin mendorong “denuklirisasi” bersama Rusia dan China. Namun Beijing menilai permintaan untuk bergabung dalam perundingan tiga pihak tidak realistis, mengingat perbedaan skala arsenal nuklir yang masih sangat besar.


Tag


TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×