CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.632.000   22.000   0,84%
  • USD/IDR 17.880   -62,00   -0,35%
  • IDX 6.340   108,24   1,74%
  • KOMPAS100 839   16,49   2,00%
  • LQ45 637   8,89   1,42%
  • ISSI 218   3,63   1,69%
  • IDX30 358   3,90   1,10%
  • IDXHIDIV20 444   3,51   0,80%
  • IDX80 96   1,59   1,69%
  • IDXV30 119   0,82   0,69%
  • IDXQ30 115   1,03   0,91%

Pertama kali dalam sejarah, dua wanita menyabet Nobel Kimia


Rabu, 07 Oktober 2020 / 21:07 WIB
ILUSTRASI. Pemenang Nobel Kimia 2020. Foto: Twitter The Nobel Prize


Reporter: SS. Kurniawan | Editor: S.S. Kurniawan

KONTAN.CO.ID - STOCKHOLM. Penghargaan Nobel Kimia 2020 jatuh kepada Emmanuelle Charpentier dari Prancis dan Jennifer A. Doudna asal Amerika Serikat (AS). Ini pertama kalinya dalam sejarah, dua wanita menyabet Nobel Kimia.

Menurut Komite Nobel Kimia Royal Swedish Academy of Sciences, pemberian Nobel Kimia 2020 kepada Charpentier dan Doudna untuk pengembangan metode genome editing atau mengubah DNA suatu organisme.

"Emmanuelle Charpentier dan Jennifer A. Doudna telah menemukan salah satu alat paling tajam dari teknologi gen: gunting genetik CRISPR/Cas9," kata Komite Nobel Kimia, Rabu (7/10), seperti dikutip TASS.  

Dengan menggunakan metode tersebut, Komite Nobel Kimia dalam pernyataannya mengatakan, para peneliti dapat mengubah DNA hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme dengan presisi yang sangat tinggi. 

Baca Juga: Nobel Fisika 2020 jatuh kepada tiga peneliti lubang hitam

"Teknologi ini memiliki dampak yang revolusioner pada ilmu kehidupan, berkontribusi pada terapi kanker baru dan dapat membuat impian menyembuhkan penyakit bawaan menjadi kenyataan," sebut Komite Nobel Kimia.

Komite Nobel Kimia menambahakan, "gunting genetika" tersebut memungkinkan "untuk mengubah kode kehidupan hanya dalam beberapa minggu saja".

Misalnya, CRISPR/Cas9 dapat digunakan untuk menghilangkan AIDS/HIV dari sel manusia, untuk pengobatan diabetes, dan skizofrenia.

"Ada kekuatan luar biasa dalam alat genetika ini, yang memengaruhi kita semua. Alat ini tidak hanya merevolusi ilmu pengetahuan dasar, tetapi juga menghasilkan tanaman yang inovatif dan akan mengarah pada terobosan perawatan medis baru," kata Claes Gustafsson, Ketua Komite Nobel Kimia.

Selanjutnya: Selamat, tiga penemu Hepatitis C sabet Nobel Kedokteran 2020




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×