kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.135.000   50.000   1,62%
  • USD/IDR 16.894   85,00   0,51%
  • IDX 8.017   -218,65   -2,65%
  • KOMPAS100 1.125   -31,30   -2,71%
  • LQ45 812   -21,87   -2,62%
  • ISSI 286   -6,72   -2,30%
  • IDX30 429   -10,83   -2,46%
  • IDXHIDIV20 517   -9,75   -1,85%
  • IDX80 126   -2,90   -2,25%
  • IDXV30 141   -2,38   -1,66%
  • IDXQ30 138   -3,69   -2,61%

Perusahaan India Ini Minta Indonesia Cabut Larangan Ekspor CPO


Kamis, 05 Mei 2022 / 11:30 WIB
Perusahaan India Ini Minta Indonesia Cabut Larangan Ekspor CPO
ILUSTRASI. Indonesia menyetop ekspor minyak goreng dan minyak sawit mentah (CPO) untuk menstabilkan kebutuhan bahan baku minyak goreng


Reporter: Aris Nurjani | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indonesia menyetop ekspor minyak goreng dan minyak sawit mentah (CPO) untuk menstabilkan kebutuhan bahan baku minyak goreng di dalam negeri.

Akibatnya, harga CPO makin tinggi karena Indonesia merupakan salah satu produsen CPO terbesar di dunia.

Dikutip dari Financial Ekspress, salah satu perusahaan sawit asal India Adani Wilmar melalui Chief Executive Officer dan Managing Director Angshu Mallick mengatakan, harga minyak sawit telah mencapai puncaknya dan akan mulai turun mulai bulan depan dan seterusnya.

Malick pun meminta Indonesia segera mencabut larangan ekspor CPO dan bahan baku minyak nabati agar harga CPO turun.

Menurut Mallick, Indonesia merupakan negara surplus minyak sawit terbesar dan saat ini kapasitas produksi sawit Indonesia sedang melimpah. Namun, Indonesia tidak memiliki ruang penyimpanan yang cukup baik sehingga tidak mampu menahan stok terlalu lama.

“Mereka bisa menunggu 7-10 hari atau 15 hari. Tetapi mereka harus mengekspor karena mereka tidak memiliki cukup penyimpanan untuk menyimpan minyak,” kata Mallick.

Baca Juga: Indonesia Setop Ekspor Minyak Goreng, India Kalang Kabut

Kata Mallick, Indonesia harus mencabut larangan ekspor sehingga harga CPO kembali turun karena tidak ada alasan lagi untuk harga CPO lebih tinggi.

“Pada akhir kuartal Juni nanti, harga minyak nabati mulai akan terkoreksi. Harga harus benar turun sekitar 10%-15%. Karena sudah mencapai puncaknya, dan pada Juni, kami akan melihat pasar terkoreksi, ” ujar Mallick.

Mallick mengatakan, akibat perang Ukraina-Rusia, harga minyak sawit sudah mulai tinggi ditambah dengan pelarangan ekspor minyak sawit yang dilakukan Indonesia, menjadi doronagn lain harga CPOlain.

“Kami merasa puncaknya sudah berakhir. Sekarang persoalan penurunan harga karena tidak ada kabar buruk yang mendorong kenaikan harga CPO,” ucap Mallick.

India mengimpor lebih dari 55% konsumsi minyak nabatinya setiap tahun, baik dalam bentuk mentah maupun olahan. Dari total impor, sebanyak 7,2 juta ton (MT) minyak sawit per tahun diantaranya didatangkan dari Indonesia dan dari Malaysia sebesar 5,4 MT.

Sekedar diketahui Presiden Jokowi melarang pemberlakuan ekspor CPO dan bahan baku minyak goreng. Langkah tersebut diambil karena guna mengatasi lonjakan harga dan kelangkaan minyak goreng di dalam negeri yang tak kunjung stabil hampir setengah tahun terakhir.

Jokowi tak menyebut secara pasti kapan larangan ekspor akan cabut tetapi ekspor akan diizinkan kembali setelah harga minyak goreng curah kembali normal dikisaran Rp 14.000.

Baca Juga: Ekspor Distop, KSP: Harga Minyak Goreng Curah Cenderung Turun




TERBARU
Kontan Academy
Procurement Strategies for Competitive Advantage (PSCA) AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026

[X]
×