Perusahaan Multinasional Hitung Kerugian Akibat Hengkang dari Rusia

Minggu, 24 April 2022 | 15:07 WIB   Reporter: Ferrika Sari
Perusahaan Multinasional Hitung Kerugian Akibat Hengkang dari Rusia

ILUSTRASI. FILE PHOTO - A sign for the U.S. fast food restaurant chain McDonald's. REUTERS/Yves Herman/File Photo GLOBAL BUSINESS WEEK AHEAD


KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Keputusan sejumlah perusahaan multinasional hengkang atau menangguhkan kegiatan operasionalnya di Rusia memang tak mudah. Selain menganggu bisnis, mereka juga harus menelan kerugian dari keputusannya ini. 

Reuters, Minggu (24/4), melaporkan bahwa perusahaan itu tengah menghitung berapa besar kerugian yang mereka harus tanggung. McDonald's Corp misalnya, terpaksa menutup 847 toko di Rusia dan akan menelan kerugian sekitar US$ 50 juta per bulan. 

Bahkan, mereka masih harus menanggung gaji 62.000 karyawan serta biaya sewa. Chief Financial Officer McDonald's Kevin Ozan mengatakan, situasi ini sangat menantang dan kompleks bagi perusahaan global seperti McDonald's.

Raksasa streaming global, Netflix juga ikut menangguhkan layanan di Rusia pada 19 April lalu. Akibatnya, perusahaan kehilangan 700.000 pelanggan, untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade. 

Bahkan pendapatan operasional produsen truk asal Swedia, AB Volvo ikut terpukul dari ketidakpastian akibat perang Rusia - Ukraina dan akan menyisikan provisi senilai US$ 432,2 juta untuk menutupi kerugian. 

Baca Juga: Agar Tidak Langgar Sanksi, Perusahaan Eropa Diharuskan Bayar Gas Rusia dengan Euro

Volvo pada Februari menangguhkan semua penjualan, layanan, dan produksi di Rusia, yang tahun lalu menyumbang sekitar 3% dari penjualan grup bersihnya sekitar 372,2 miliar crown. 
Lokasi produksi perusahaan di Kaluga, dekat Moskow, memiliki kapasitas untuk memproduksi 15.000 kendaraan per tahun dan mempekerjakan lebih dari 600 orang.

Akibatnya, saham perusahaan telah kehilangan seperempat nilainya sejak awal tahun karena kekurangan komponen dan kapasitas pengangkutan sehingga menganggu produksi dan biaya juga meningkat.

Tak hanya mereka, Philip Morris International Inc terpaksa memangkas perkiraan pendapatan setahun penuh karena menanggung kerugian setelah menutup di Rusia. Mereka menanggung biaya yang lebih tinggi, dan pemulihan yang lamban dalam bisnis bebas bea di Asia.

Raksasa tembakau itu mengambil biaya 3 sen per saham terkait perang di Ukraina pada kuartal pertama, setelah menghentikan penjualan sejumlah produk rokok Marlboro dan Parliament di Rusia.

Perusahaan, yang sedang mengerjakan opsi untuk keluar dari Rusia, juga telah membatalkan peluncuran produk untuk tahun ini dan menangguhkan investasi yang direncanakan di sana setelah invasi Moskow ke Ukraina.

Laba kuartal pertama Philip Morris turun 3,6% menjadi US$2,32 miliar, atau US$1,50 per saham, termasuk biaya 3 sen. Rusia menghasilkan pendapatan lebih dari US$1,8 miliar tahun lalu untuk Philip Morris, sekitar 6% dari penjualan global perusahaan yang berbasis di New York itu.

Baca Juga: Harga Minyak Mentah Anjlok Hampir 5% di Pekan Ini, Ini Katalis yang Menyeretnya

Philip Morris juga memangkas perkiraannya untuk laba per saham yang disesuaikan tahun 2022 menjadi antara US$5,45 dan US$5,56 dari antara US$6,12 dan US$6,30 yang diperkirakan sebelumnya, karena melonjaknya beban biaya.

Peritel mode yang berbasis di Amerika Serikat, TJX mengatakan akan menjual 25% sahamnya di jaringan toko pakaian murah Rusia, Familia. Saham tersebut bernilai US$186 juta pada akhir Januari, lebih rendah dari us$225 juta yang dibayarkan TJX pada 2019. 

TJX mengatakan mungkin perlu mencatat penurunan nilai akibat divestasi jika nilai wajar investasi Familia turun di bawah nilai tercatatnya. TJX mengatakan mungkin akan dikenakan biaya penurunan nilai karena penjualan tersebut.

Editor: Herlina Kartika Dewi

Terbaru