kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.703.000   40.000   1,50%
  • USD/IDR 16.993   76,00   0,45%
  • IDX 9.134   58,47   0,64%
  • KOMPAS100 1.263   7,36   0,59%
  • LQ45 893   3,69   0,41%
  • ISSI 334   4,00   1,21%
  • IDX30 455   2,66   0,59%
  • IDXHIDIV20 538   4,37   0,82%
  • IDX80 141   0,76   0,54%
  • IDXV30 149   1,74   1,18%
  • IDXQ30 146   0,65   0,45%

Pesanan mesin Jepang pada bulan Mei kembali naik secara berturut-turut


Senin, 12 Juli 2021 / 09:44 WIB
Pesanan mesin Jepang pada bulan Mei kembali naik secara berturut-turut
ILUSTRASI. ilustrasi polusi asap pabrik. REUTERS/Toru Hanai/File Photo


Reporter: Adrianus Octaviano | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - TOKYO. Pesanan mesin inti Jepang kembali tumbuh untuk bulan ketiga berturut-turut di bulan Mei. Ini pertanda baik bagi ekonomi Jepang yang berjuang untuk mengatasi pukulan dari pandemi virus corona.

Mengutip Reuters, pesanan mesin inti berdasarkan data yang dianggap sebagai indikator belanja modal dalam enam hingga sembilan bulan mendatang, melonjak 7,8% dari bulan sebelumnya pada Mei. Angka tersebut mengalahkan perkiraan ekspansi 2,6% oleh para ekonom.

Dari tahun sebelumnya, pesanan mesin inti, yang mengecualikan untuk kapal dan listrik, naik 12,2% pada Mei, mengalahkan kenaikan 6,3% yang diharapkan oleh para ekonom.

Baca Juga: Harga rumah melonjak akibat pandemi, kesenjangan di Inggris kian nyata

Berdasarkan sektornya, pesanan dari produsen tumbuh 2,8%, didorong oleh mesin listrik, sementara untuk pesanan dari non-manufaktur naik 10,0% yang berarti bangkit dari penurunan tajam bulan sebelumnya

Lonjakan pesanan ini menunjukkan kebangkitan moderat dalam pengeluaran perusahaan yang dianggap pembuat kebijakan sangat diperlukan untuk mempercepat pemulihan dalam ekonomi yang melihat prospeknya kembali kabur karena darurat virus corona terbaru.

Seperti diketahui, pemerintah memberlakukan keadaan darurat baru di Tokyo yang akan berlangsung hingga 22 Agustus dalam upaya untuk mengendalikan krisis kesehatan, sebuah langkah yang mengaburkan prospek pertumbuhan ekonomi.

Dalam menyatakan keadaan darurat beberapa waktu lalu, Perdana Menteri Yoshihide Suga mengatakan bahwa itu adalah kunci untuk mencegah Tokyo menjadi titik nyala infeksi baru.

Baca Juga: AS tingkatkan tekanan terhadap Rusia terkait keberadaan kelompok ransomware

Namun dengan langkah tersebut, Suga mengaku ada resiko mengganggu pemulihan ekonomi Jepang. Dai-ichi Life Research Institute memperkirakan bahwa keadaan darurat dapat memangkas sekitar 1 triliun yen  atau setara US$ 9,1 miliar dari produk domestik bruto dan memotong 55.000 pekerjaan selama beberapa bulan mendatang.

Selanjutnya: Kim Jong Un ke Xi Jinping: Sekarang kekuatan musuh menjadi lebih putus asa




TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies Investing From Zero

[X]
×