Sumber: Reuters | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - MANILA. Mata uang Peso Filipina jatuh ke rekor terendah pada Jumat (28/8/2026), melanjutkan tren pelemahan yang dipicu oleh lemahnya arus masuk modal dan kekhawatiran akan tingginya biaya energi.
Sementara won Korea Selatan bertahan di dekat level tertinggi dalam satu tahun setelah bank sentral Korea menunjukkan sikap hawkish dan menaikkan perkiraan pertumbuhan ekonominya.
Jumat (28/8/2026), nilai peso turun hingga 0,6% ke rekor terendah di level 62,216 per dolar dan berada di jalur penurunan mingguan ketiga berturut-turut. Mata uang ini termasuk yang paling rentan terhadap fluktuasi harga energi di Asia, mengingat ketergantungan Filipina pada impor minyak.
Harga minyak turun pada Jumat setelah sempat naik lebih dari 2% pada perdagangan sebelumnya, menyusul laporan bahwa Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tidak tertarik untuk kembali pada ketentuan nota kesepahaman yang dicapai dengan Iran pada bulan Juni.
Baca Juga: Bos The Fed Kevin Warsh Jadi Sorotan di Jackson Hole, Pasar Tunggu Sinyal Suku Bunga
Setelah menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada hari Kamis—sesuai ekspektasi—untuk mengatasi tekanan inflasi, bank sentral Filipina memperingatkan adanya risiko. Termasuk fenomena El Nino yang kuat, yang dapat berdampak pada pasokan beras domestik maupun impor.
Berbagai negara di dunia telah memperingatkan dampak ekonomi dari El Nino; musim monsun yang lemah di India mengancam hasil panen. Sementara fenomena iklim ini juga memicu kekhawatiran akan berkurangnya curah hujan yang memasok air bagi Terusan Panama, jalur vital bagi perdagangan global.
"Prospek peso Filipina tetap negatif akibat tekanan eksternal yang signifikan," ujar para analis Citi seperti dikutip Reuters.
Defisit transaksi berjalan kian melebar, didorong oleh tingginya harga energi dan melemahnya neraca jasa pada kuartal terakhir. Tekanan ini kemungkinan akan berlanjut, mengingat belanja infrastruktur pemerintah di masa mendatang akan menjaga nilai impor tetap tinggi.
Di Asia Timur, kinerja mata uang lebih baik berkat optimisme terhadap kecerdasan buatan (AI) menyusul laporan kinerja Nvidia.
Won Korea Selatan diperdagangkan di kisaran 1.375,55 per dolar—level tertinggi dalam hampir setahun—setelah Bank of Korea menaikkan suku bunga acuan sebesar seperempat poin persentase pada hari Kamis serta merevisi naik perkiraan pertumbuhan ekonomi tahun ini.
Won mencatatkan kinerja lebih unggul dibandingkan mata uang Asia lainnya tahun ini, dengan penguatan sebesar 4,5%, karena ekspor yang kuat menopang pertumbuhan ekonomi Korea Selatan dan melindungi mata uang tersebut dari tekanan yang melanda mata uang lain yang sensitif terhadap harga minyak.
Baca Juga: Indeks KOSPI Melemah, Terancam Penurunan Mingguan Kedua
Sementara, baht Thailand melemah selama lima sesi berturut-turut. Bank of Thailand mempertahankan suku bunga acuan tetap stabil pada hari Rabu—sesuai dengan perkiraan luas—sembari memperingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi masih rendah dan tidak merata.
Lalu, dolar Taiwan menguat selama tiga sesi berturut-turut, sehingga memangkas kerugian sejak awal tahun (year-to-date) menjadi 0,5%.
Seluruh perhatian tertuju pada Simposium Jackson Hole, di mana Ketua Federal Reserve Kevin Warsh dijadwalkan untuk berbicara pada hari ini.
Tiga pejabat The Fed telah menyuarakan kekhawatiran mengenai inflasi yang sulit turun (sticky inflation), namun kepala bank sentral yang baru tersebut enggan memberikan panduan ke depan (forward guidance) mengenai arah kebijakan suku bunga.
Indeks dolar AS, yang mengukur nilai mata uang tersebut terhadap enam mata uang utama lainnya, tidak banyak berubah di level 99,172 pada awal perdagangan di Asia.














