Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Nilai tukar mata uang Asia terhadap dolar AS melemah pada Kamis (12/3/2026), dengan peso Filipina dan ringgit Malaysia memimpin pelemahan, terdorong oleh kekhawatiran pasar atas konflik di Timur Tengah dan lonjakan harga minyak global.
Pergerakan utama mencatatkan: peso Filipina melemah 0,51% ke 59,50 per dolar AS, ringgit turun 0,31% ke 3,925, rupiah melemah 0,15% menjadi 16.890 per dolar, dan baht Thailand turun 0,16% menjadi 31,910 per dolar. Yen Jepang justru menguat tipis 0,07% ke 158,83 per dolar.
Baca Juga: Kereta Penumpang China Menuju Korut, Pertama dalam 6 Tahun, Berangkat dari Beijing
"Kenaikan harga minyak akibat serangan terhadap tanker di Teluk Persia telah menimbulkan kekhawatiran inflasi dan meningkatkan permintaan dolar sebagai aset safe-haven, sehingga menekan mata uang regional," kata Tina Teng, analis pasar di Moomoo ANZ.
Sejak awal 2026, beberapa mata uang Asia sudah mencatat pergerakan signifikan. Ringgit naik 3,34% dibanding akhir 2025, yuan China menguat 1,65%, sementara rupiah melemah 1,30% dan yen turun 1,37%.
"Pasar tetap waspada terhadap risiko geopolitik yang bisa mengganggu pasokan energi global, termasuk konflik di Timur Tengah, yang mendorong investor menahan mata uang lokal dan beralih ke dolar," tambah Teng.
Baca Juga: Pokemon Pokopia Dongkrak Sentimen Momentum Penjualan Nintendo Switch 2
Selain faktor geopolitik, pergerakan mata uang juga dipengaruhi oleh kebijakan moneter masing-masing negara, data inflasi, dan sentimen perdagangan global.
Peso dan ringgit cenderung lebih sensitif terhadap risiko energi karena ketergantungan masing-masing negara pada impor minyak.













