Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh dijadwalkan menyampaikan pidato di hadapan para ekonom internasional dan bankir sentral pada Jumat (28/8/2026).
Investor global menanti sinyal lebih jelas mengenai kondisi ekonomi Amerika Serikat (AS), gejolak terbaru di pasar obligasi, serta risiko yang membayangi prospek ekonomi AS dan global.
Pidato Warsh dalam simposium ekonomi tahunan The Fed di Jackson Hole, Wyoming, menjadi salah satu ujian penting bagi kepemimpinannya yang baru berjalan sekitar tiga bulan.
Perhatian utama pasar tertuju pada apakah Warsh akan tetap mempertahankan pendekatan komunikasi kebijakan moneter yang minim arahan atau memberikan gambaran mengenai pandangannya terhadap inflasi yang masih tinggi.
Pasar juga menunggu penjelasan lebih jauh mengenai kondisi apa yang dapat mendorong The Fed menaikkan suku bunga untuk kembali mengendalikan inflasi.
Baca Juga: Penjualan & Produksi Toyota Turun, Terseret Penurunan Tajam di China dan Timur Tengah
Sejumlah pejabat The Fed lainnya sebelumnya telah berbicara secara terbuka mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga. Pendekatan komunikasi yang lebih terbuka tersebut telah menjadi praktik umum seiring meningkatnya transparansi bank sentral.
Sementara itu, keengganan Warsh untuk membahas terlalu banyak detail mengenai arah kebijakan moneter dinilai menjadi salah satu elemen yang masih belum terjawab oleh pasar.
Pejabat The Fed Mulai Buka Peluang Kenaikan Suku Bunga
Beberapa jam sebelum jamuan makan malam pembukaan konferensi pada Kamis malam waktu setempat, sejumlah kolega Warsh di The Fed mulai menyampaikan alasan mengapa suku bunga mungkin perlu dinaikkan.
Presiden Federal Reserve Bank of Kansas City Jeffrey Schmid, yang menjadi tuan rumah acara Jackson Hole tahun ini, mengatakan kebijakan moneter saat ini mungkin belum cukup ketat untuk menekan belanja dan investasi.
"Saya tidak tahu apa yang sedang kita batasi dengan kebijakan suku bunga yang kita terapkan saat ini," kata Schmid dalam wawancara dengan CNBC.
Schmid merujuk pada suku bunga kebijakan The Fed yang berada di kisaran 3,50%-3,75% sejak Desember.
Menurut dia, tingkat suku bunga tersebut belum cukup membatasi aktivitas ekonomi sebagaimana dibutuhkan untuk memperlambat inflasi.
"Inflasi masih membandel dan masih sulit turun, sehingga kita harus terus mencari cara untuk menembus kondisi tersebut," ujarnya.
Sementara itu, Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Beth Hammack mengambil sikap lebih tegas.
"Sekarang adalah waktunya untuk bertindak," kata Hammack dalam wawancara terpisah dengan CNBC.
Berbeda dengan Hammack, Presiden Federal Reserve Bank of Boston Susan Collins menyampaikan pandangan yang lebih hati-hati.
Dalam wawancara dengan Reuters, Collins mengatakan data inflasi terbaru masih "beragam". Menurut dia, inflasi secara keseluruhan masih terlalu tinggi, meskipun sejumlah rincian dalam data menunjukkan tanda-tanda yang lebih menjanjikan.
Baca Juga: Indeks Nikkei Menguat di Sesi Pertama, Diskong Saham Teknologi Jelang Pidato Warsh
Dengan kondisi tersebut, Collins menilai kebutuhan untuk menaikkan suku bunga masih menjadi pertanyaan terbuka.
'Inflasi Adalah Prioritas Utama'
Perdebatan mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin mungkin terlihat kecil jika dilihat dari dampaknya terhadap perekonomian dalam jangka sangat pendek.
Pasalnya, prospek pertumbuhan ekonomi AS justru terlihat membaik pada pekan ini setelah data menunjukkan belanja konsumen dan pesanan barang tahan lama pada Juli cukup kuat.
Namun, menurut Adam Posen, Presiden Peterson Institute for International Economics dan mantan anggota komite kebijakan Bank of England, Warsh perlu memperjelas bahwa dirinya siap mengambil langkah yang diperlukan apabila inflasi tetap berada jauh di atas target The Fed sebesar 2% atau kembali meningkat.
"Apa yang seharusnya dia lakukan adalah mengutip kembali pernyataannya dalam pidato, konferensi pers, dan sidang konfirmasi sebelumnya: 'Inflasi adalah prioritas utama. Sejumlah kolega saya di Komite Pasar Terbuka Federal telah menyampaikan kekhawatiran. Saya pikir kekhawatiran tersebut sah, dan kami tidak akan gagal bertindak dalam waktu dekat,'" ujar Posen.
Menurut Posen, sikap tersebut akan memungkinkan Warsh menyampaikan secara tegas kesiapannya menaikkan suku bunga jika diperlukan, tanpa harus meninggalkan pandangannya sebelumnya bahwa peningkatan produktivitas dan faktor lainnya dalam jangka panjang dapat membantu menjaga inflasi tetap rendah.
Warsh dijadwalkan mulai berbicara pada pukul 10.00 waktu setempat atau sekitar pukul 14.00 GMT. Pidatonya akan menjadi keynote yang membuka dua hari diskusi dalam forum yang selama hampir setengah abad berkembang menjadi salah satu tempat paling penting bagi perdebatan kebijakan bank sentral dan penelitian ekonomi.
Pasar Obligasi AS Jadi Perhatian
Tema resmi Jackson Hole tahun ini adalah inovasi keuangan. Namun, seperti tahun-tahun sebelumnya, pembicaraan di luar agenda resmi diperkirakan akan berfokus pada Warsh dan arah kebijakan The Fed.
Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah intervensi Menteri Keuangan AS Scott Bessent baru-baru ini di pasar obligasi. Langkah tersebut menimbulkan pertanyaan apakah terdapat tantangan baru yang akan dihadapi Warsh sebagai pimpinan The Fed.
Dalam skenario ekstrem, kebijakan moneter untuk menekan inflasi melalui kenaikan suku bunga dapat berbenturan dengan kebutuhan mengelola sekitar US$40 triliun utang pemerintah AS yang beredar.
Kondisi tersebut juga berkaitan dengan keinginan Presiden AS Donald Trump untuk memperoleh pembiayaan utang dengan biaya serendah mungkin.
Kebijakan suku bunga The Fed tidak hanya berdampak terhadap AS. Para bankir sentral dari berbagai negara yang hadir di Jackson Hole juga memiliki kepentingan besar karena keputusan The Fed memengaruhi nilai tukar, inflasi, dan tingkat suku bunga di berbagai negara.
Baca Juga: Korsel, Jepang dan AS Bakal Latihan Militer Bersama: Siap Hadapi Rudal Nuklir Korut
The Fed Hadapi Dilema Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi
Keengganan Warsh memberikan panduan mengenai keputusan kebijakan moneter mendatang sebenarnya dilakukan secara sengaja.
Sejumlah koleganya di The Fed bahkan sepakat bahwa bank sentral sebaiknya tidak terlalu mengarahkan pasar pada hasil kebijakan tertentu. Sebab, ekspektasi yang sudah terbentuk dapat menimbulkan masalah apabila kondisi ekonomi berubah dan kebijakan akhirnya harus disesuaikan.
Data inflasi terbaru menunjukkan perbaikan yang masih terbatas.
Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE), yang menjadi ukuran inflasi utama dalam penetapan target The Fed, tercatat tetap berada di 3,7% pada Juli. Angka tersebut masih jauh di atas target inflasi The Fed sebesar 2%.
Di sisi lain, kekuatan pasar tenaga kerja masih menjadi tanda tanya.
Sebagian ekonom memperkirakan belanja konsumen akan melemah sehingga menekan pertumbuhan ekonomi dan harga. Namun, ekonom lainnya menilai tekanan inflasi yang saat ini berasal dari tarif perdagangan dan harga minyak dapat mereda sehingga inflasi berpotensi turun.
Pasar Tunggu 'Reaction Function' Warsh
Penasihat Keuangan IMF Tobias Adrian dalam sebuah esai pada awal pekan ini mengatakan, penggunaan forward guidance untuk membuat komitmen mengenai suku bunga dapat menimbulkan risiko ketika perekonomian menghadapi guncangan dari sisi pasokan.
"Forward guidance dapat menjadi mahal dalam lingkungan yang dipenuhi guncangan pasokan," tulis Adrian.
Guncangan tersebut dapat mengubah prospek ekonomi dan respons kebijakan dengan cepat.
Namun, Adrian membedakan antara forward guidance yang memberikan komitmen spesifik mengenai suku bunga dan komunikasi yang menjelaskan bagaimana pembuat kebijakan melihat risiko atau berbagai skenario ekonomi.
Baca Juga: Trump Batasi Program Magang Bagi Mahasiswa Internasional
Menurutnya, bank sentral tetap perlu menjelaskan bagaimana mereka kemungkinan merespons perubahan data ekonomi.
"Mereka tetap perlu menjelaskan data mana yang secara spesifik penting dan bagaimana data tersebut memengaruhi keputusan kebijakan mereka," tulis Adrian.
Adrian menambahkan bahwa fungsi reaksi bank sentral atau reaction function jarang menghasilkan formula yang sederhana karena bank sentral cenderung menghindari aturan yang mekanis.
"Pertimbangan tetap sangat diperlukan. Namun, komunikasi kualitatif mengenai fungsi reaksi merupakan fondasi penting bagi kredibilitas dan akuntabilitas lembaga-lembaga tersebut," tulisnya.
Inilah yang dinilai masih kurang dari komunikasi Warsh selama tiga bulan pertama kepemimpinannya.
Karena itu, pasar global akan mencermati pidato Warsh di Jackson Hole untuk mencari petunjuk mengenai bagaimana The Fed akan merespons inflasi, pertumbuhan ekonomi, pasar tenaga kerja, serta gejolak pasar obligasi ke depan.
Bagi investor, bukan hanya keputusan suku bunga yang menjadi perhatian. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana Warsh menjelaskan batas toleransi The Fed terhadap inflasi dan kondisi yang dapat memicu perubahan arah kebijakan moneter AS.














