Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Mayoritas mata uang Asia mengalami pelemahan terhadap dolar AS pada Jumat (27/3/2026), dengan peso Filipina menjadi yang paling tertekan, seiring meningkatnya ketidakpastian akibat konflik Timur Tengah dan penguatan dolar sebagai aset safe-haven.
Melansir Reuters berdasarkan data perdagangan pukul 02:03 GMT, posisi mata uang utama Asia terhadap dolar AS tercatat:
Baca Juga: Nikkei Jepang Menuju Kerugian Mingguan ke-4 Imbas Perang Iran pada Jumat (27/3)
- Yen Jepang 159,460 per dolar (menguat 0,21%)
- Dolar Singapura 1,285 per dolar (stabil)
- Dolar Taiwan 31,920 per dolar (turun 0,05%)
- Won Korea Selatan 1.504,800 per dolar (turun 0,21%)
- Baht Thailand 32,880 per dolar (turun 0,30%)
- Peso Filipina 60,341 per dolar (turun 0,31%)
- Rupiah Indonesia 16.925 per dolar (turun 0,18%)
- Rupee India 93,978 per dolar (stabil)
- Ringgit Malaysia 4,003 per dolar (turun 0,27%)
- Yuan China 6,913 per dolar (turun 0,04%)
Baca Juga: Selandia Baru Siapkan Strategi Bertahap Hadapi Risiko Pasokan Bahan Bakar, Apa Saja?
Jika dilihat sejak awal 2026, beberapa mata uang utama Asia juga mencatat pelemahan signifikan:
- Rupee India turun 4,37%
- Baht Thailand turun 4,35%
- Won Korea Selatan turun 4,34%
- Peso Filipina turun 2,55%
- Yen Jepang turun 1,76%
- Rupiah Indonesia turun 1,51%
Baca Juga: Harga Emas Dunia di US$4.380 Jumat (27/3) Pagi, Pekan ke-4 Berturut-turut Turun
Sementara itu, ringgit Malaysia dan yuan China justru menguat masing-masing 1,32% dan 1,09% sejak awal tahun, menunjukkan kinerja relatif lebih stabil di tengah gejolak pasar energi global dan ketegangan geopolitik.
Analis menilai pelemahan sebagian besar mata uang Asia dipicu oleh penguatan dolar AS yang meningkat akibat permintaan investor terhadap aset safe-haven, serta ekspektasi kenaikan suku bunga yang lebih tinggi untuk menahan tekanan inflasi dari lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah.












