kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.940.000   20.000   0,68%
  • USD/IDR 16.835   -75,00   -0,44%
  • IDX 7.999   63,28   0,80%
  • KOMPAS100 1.128   11,11   1,00%
  • LQ45 819   3,28   0,40%
  • ISSI 283   5,20   1,87%
  • IDX30 425   -0,92   -0,22%
  • IDXHIDIV20 511   -3,66   -0,71%
  • IDX80 126   1,02   0,82%
  • IDXV30 139   0,13   0,09%
  • IDXQ30 138   -0,71   -0,51%

PM Inggris: Jangan ada yang mengakui kekuasaan Taliban


Senin, 16 Agustus 2021 / 08:29 WIB
PM Inggris: Jangan ada yang mengakui kekuasaan Taliban
ILUSTRASI. Perdana Menteri Inggris Boris Johnson memberikan pidato di Exeter College Construction Centre, Inggris, Selasa (29/9/2020).


Sumber: Reuters | Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

KONTAN.CO.ID - LONDON. Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dengan tegas mengatakan pada hari Minggu (15/8) bahwa dirinya tidak mengakui Taliban.

Johnson juga menyarankan agar tidak ada pihak yang secara bilateral mengakui Taliban sebagai pemerintah Afghanistan.

"Kami tidak ingin siapa pun secara bilateral mengakui Taliban," kata Johnson, seraya mendesak sekutunya untuk bekerja sama di Afghanistan melalui mekanisme seperti PBB dan NATO.

Lebih lanjut, Johnson bertekad untuk mencegah Afghanistan kembali menjadi tempat berkembang biaknya teror melalui kerja sama dengan semua pihak yang sejalan dengan sikap Inggris.

Sama seperti banyak negara lainnya, Inggris juga mulai mengevakuasi warga negaranya yang ada di Kabul, termasuk para diplomat dan pejabat.

"Duta Besar Inggris bekerja sepanjang waktu, telah berada di bandara untuk membantu prosesnya," ungkap Johnson, seperti dikutip Reuters.

Baca Juga: Presiden Afghanistan tinggalkan negara untuk menghindari pertumpahan darah

Johnson juga mengakui bahwa keputusan AS untuk menarik pasukannya dari Afghanistan telah mempercepat pergerakan Taliban di negara tersebut.

Pada Minggu, Presiden Afghanistan Ashraf Ghani mengatakan dia telah meninggalkan negaranya untuk menghindari pertumpahan darah ketika Taliban memasuki ibu kota Kabul.

"Taliban meraih kemenangan dalam penghakiman dengan pedang dan senapan. Mereka kini memiliki tanggung jawab untuk melindungi kehormatan, kemakmuran dan harga diri rekan-rekan kita," kata Ghani, seperti dikutip Reuters.

Juru bicara kantor politik Taliban mengatakan kepada Al Jazeera TV bahwa perang di Afghanistan telah berakhir dan jenis pemerintahan dan bentuk rezim baru akan segera terbentuk.

Selanjutnya: Pentagon kirim 1.000 pasukan tambahan untuk mengevakuasi warga AS di Kabul




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×