Presiden Korea Selatan jadi pemimpin negara kedua yang kunjungi Gedung Putih

Jumat, 30 April 2021 | 10:33 WIB Sumber: Reuters
Presiden Korea Selatan jadi pemimpin negara kedua yang kunjungi Gedung Putih

ILUSTRASI. Presiden Korea Selatan Moon Jae-in berpidato pada peringatan tiga tahun pelantikannya di istana kepresidenan di Blue House di Seoul, Korea Selatan, Minggu (10/5/2020).


KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Presiden Korea Utara, Moon Jae In, memastikan bahwa dirinya akan mengunjungi Gedung Putih pada 21 Mei mendatang untuk membicarakan penguatan aliansi dengan AS.

Kabar kunjungan pemimpin negara ini disampaikan langsung oleh pihak Gedung Putih pada hari Kamis (29/4).

"Presiden Biden berharap dapat bekerja dengan Presiden Moon untuk lebih memperkuat aliansi kami dan memperluas kerja sama erat kami," kata Gedung Putih dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip Reuters.

Kunjungan Moon merupakan kunjungan pemimpin negara keuda pada era Biden. Kunjungan pertama terjadi awal bulan ini saat Perdana Menteri Jepang, Yoshihide Suga, juga hadir langsung di Gedung Putih.

Dua kunjungan awal ini seolah menunjukkan arah kebijakan luar negeri AS yang condong mengarah ke kawasan Asia Timur. Bisa dipastikan bahwa China dan Korea Utara akan jadi topik pembahasan antara Biden dan Moon nanti.

Baca Juga: Biden berjanji akan mempertahankan kehadiran militer AS di Indo-Pasifik

Biden telah mengidentifikasi kebangkitan China sebagai tantangan geopolitik utama yang dihadapi AS. Dalam sejumlah pernyataan, Biden tegas menentang manuver China di kawasan.

Sekretaris pers senior Moon, Chung Man Ho, mengatakan dalam pengarahan bahwa kedua pemimpin akan menegaskan kembali soliditas aliansi negara mereka dan berharap untuk memperluas kerja sama yang komprehensif dan timbal balik berdasarkan persahabatan kedua negara.

Chung mengatakan, pertemuan tersebut akan membahas kerja sama erat antara Korea Selatan dan AS untuk membuat kemajuan dalam denuklirisasi penuh di semenanjung Korea serta sektor lainnya.

"Pertemuan juga akan membahas kebijakan perdamaian yang langgeng, serta kerja sama praktis, termasuk di bidang ekonomi dan perdagangan, dan tanggapan terhadap tantangan global seperti perubahan iklim dan Covid-19," papar Chung.

Dilansir dari Reuters, pemerintahan Biden saat ini sudah sampai di tahap akhir peninjauan kebijakan untuk membendung program nuklir di Korea Utara.

Di sisi lain, Korea Utara telah menolak perlucutan senjata sepihak dan tidak menunjukkan tanda-tanda untuk memasuki konsep denuklirisasi universal.

Selanjutnya: Korea Utara dikabarkan sedang siapkan serangan siber ke aliansi AS-Korea Selatan

Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

Terbaru