Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Pemerintah Iran menyatakan tengah meninjau proposal dari Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri perang di kawasan Teluk.
Namun, Teheran menegaskan belum memiliki niat untuk melakukan negosiasi langsung guna mengakhiri konflik yang terus meluas di Timur Tengah.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan bahwa pertukaran pesan melalui mediator tidak dapat diartikan sebagai proses negosiasi dengan AS.
Baca Juga: Dolar AS Menguat Kamis (26/3) Pagi, Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed Berkurang
“Pesan yang disampaikan berisi sejumlah gagasan dan telah diteruskan kepada otoritas tertinggi. Jika diperlukan, posisi resmi akan diumumkan,” ujarnya dalam siaran televisi pemerintah, Rabu (25/3/2026).
Sikap ini menunjukkan adanya peluang terbatas bagi Iran untuk mempertimbangkan penyelesaian konflik, meskipun sebelumnya para pejabat Iran secara terbuka menolak wacana perundingan dengan AS.
Sumber regional juga mengungkapkan bahwa Iran menginginkan Lebanon turut dimasukkan dalam setiap kesepakatan gencatan senjata dengan AS dan Israel.
Proposal yang diajukan Presiden AS Donald Trump, yang terdiri dari 15 poin dan disalurkan melalui Pakistan, mencakup sejumlah tuntutan, antara lain penghapusan stok uranium yang diperkaya tinggi, penghentian program pengayaan nuklir, pembatasan program rudal balistik, serta penghentian dukungan terhadap sekutu regional Iran.
Gedung Putih tidak mengungkap rincian proposal tersebut secara resmi, namun memperingatkan bahwa AS siap meningkatkan serangan jika Iran menolak.
Baca Juga: Inflasi Jasa Jepang Menguat pada Februari, Dorong Peluang Kenaikan Suku Bunga
Di sisi lain, pejabat pertahanan Israel meragukan Iran akan menyetujui persyaratan tersebut. Israel juga menginginkan agar kesepakatan apa pun tetap memberikan ruang untuk melakukan serangan pre-emptive.
Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM) Laksamana Brad Cooper menyatakan bahwa lebih dari 10.000 target di Iran telah diserang.
Ia mengklaim sekitar 92% kapal perang utama Iran telah dihancurkan, sementara kapasitas peluncuran drone dan rudal turun lebih dari 90%.
Meski demikian, konflik masih terus berlangsung. Serangan udara Israel ke wilayah Teheran dilaporkan menargetkan berbagai infrastruktur, termasuk fasilitas pembuatan kapal.
Sementara itu, Iran terus melancarkan serangan drone dan rudal ke Israel serta pangkalan AS di kawasan.
Kuwait dan Arab Saudi juga melaporkan berhasil menggagalkan serangan drone terbaru.
Baca Juga: Bursa Australia Bergerak Tipis, Menanti Respons Iran atas Proposal Gencatan Senjata
Ketegangan juga berpotensi meluas. Media Iran menyebut Teheran dapat membuka front baru di Selat Bab al-Mandab, jalur strategis antara Yaman dan Djibouti, jika wilayahnya terus diserang.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf bahkan memperingatkan bahwa negaranya akan menyerang negara tetangga yang bekerja sama dengan musuh.
Sejak dimulainya operasi militer AS yang disebut “Operation Epic Fury”, Iran telah menyerang negara-negara yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS serta menutup Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengingatkan bahwa dunia berada di ambang perang yang lebih luas.
“Sudah saatnya berhenti menaiki tangga eskalasi dan mulai menaiki tangga diplomasi,” ujarnya di markas besar PBB di New York.
Baca Juga: Trump ke China Mei Setelah 8 Tahun: Apakah Xi Jinping Siap Beri Sambutan?
Di tengah perkembangan tersebut, pasar global merespons positif harapan perdamaian. Bursa saham menguat dan harga minyak turun, seiring optimisme bahwa konflik yang mengganggu pasokan energi global dapat segera berakhir.
Namun, dengan eskalasi militer yang masih berlangsung dan ketidakpastian diplomatik, risiko terhadap stabilitas kawasan dan ekonomi global tetap tinggi.













