Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Tekanan inflasi di sektor jasa Jepang kembali menunjukkan penguatan pada Februari 2026.
Data terbaru Kamis (26/3/2026) menunjukkan bahwa inflasi jasa korporasi meningkat 2,7% secara tahunan (YoY), menguat dari kenaikan 2,6% pada Januari.
Kenaikan ini memperkuat pandangan bank sentral Jepang bahwa pasar tenaga kerja yang ketat mendorong perusahaan untuk meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen.
Baca Juga: Bursa Australia Bergerak Tipis, Menanti Respons Iran atas Proposal Gencatan Senjata
Indikator yang digunakan, yakni indeks harga produsen jasa (services producer price index), mencerminkan harga yang dibebankan antarperusahaan untuk layanan jasa.
Peningkatan terutama terjadi pada sektor padat karya seperti perhotelan dan konstruksi.
Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa kekurangan tenaga kerja mulai mendorong kenaikan upah, yang pada akhirnya berdampak pada inflasi sektor jasa.
Bank sentral Jepang, Bank of Japan menegaskan bahwa pihaknya membutuhkan bukti inflasi yang berkelanjutan di level target 2%, yang didorong oleh kenaikan upah dan harga jasa, bukan semata akibat lonjakan biaya bahan baku.
Seperti diketahui, Bank of Japan telah mengakhiri program stimulus besar-besaran yang berlangsung selama satu dekade pada 2024.
Baca Juga: Ancaman Trump: Iran Dihantam Lebih Keras Jika Tolak Damai
Pada Desember lalu, bank sentral juga menaikkan suku bunga jangka pendek menjadi 0,75% seiring keyakinan bahwa Jepang berada di jalur untuk mencapai target inflasi secara berkelanjutan.
Dengan inflasi konsumen yang telah melampaui target 2% selama hampir empat tahun, bank sentral membuka peluang untuk kembali menaikkan suku bunga, selama tren kenaikan harga terus diiringi pertumbuhan upah.













