Qatar tidak akan bertanggung jawab atas bandara Kabul tanpa kesepakatan jelas

Rabu, 15 September 2021 | 14:27 WIB Sumber: Al Jazeera
Qatar tidak akan bertanggung jawab atas bandara Kabul tanpa kesepakatan jelas

ILUSTRASI. Afghanistan. REUTERS/Stringer


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Qatar mengatakan tidak akan bertanggung jawab atas bandara Kabul tanpa kesepakatan jelas dengan semua pihak yang terlibat, termasuk Taliban, tentang operasinya.

Berbicara pada konferensi pers hari Selasa, Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani mengatakan negaranya tidak dapat bertanggung jawab atas operasi bandara jika semua masalah tidak ditangani dengan jelas. “Saat ini statusnya masih dalam negosiasi,” katanya

Doha telah menjadi perantara utama di Afghanistan setelah penarikan pasukan NATO pimpinan AS bulan lalu, membantu mengevakuasi ribuan orang asing dan Afghanistan, melibatkan penguasa baru Taliban, dan mendukung operasi di bandara Kabul.

Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid mengatakan kepada Al Jazeera bahwa kelompok itu sekarang mengamankan dan mengoperasikan tempat tersebut, menunjukkan bahwa pihaknya sedang dalam pembicaraan dengan Qatar dan Turki tentang masa depan fasilitas tersebut.

Baca Juga: Baru sebulan menguasai Afghanistan, Taliban sudah dihantui krisis ekonomi

Kelompok bersenjata telah berulang kali mengatakan tidak akan menerima kehadiran militer asing di negara itu setelah 31 Agustus. Namun, Sheikh Mohammed mengatakan bahwa Qatar mendesak Taliban untuk menerima bantuan asing.

Taliban telah meminta Turki untuk menangani logistik sambil mempertahankan kendali keamanan dan Ankara mengatakan masih menilai tawaran itu. Namun, dengan Taliban bersikeras untuk mengontrol penuh keamanan, Turki tampak kurang antusias.

Insentif utama untuk mengoperasikan bandara fungsional akan menjadi dorongan yang akan memberikan citra internasional Taliban. Sejak penarikan AS, pesawat Qatar Airways telah melakukan beberapa perjalanan ke Kabul, terbang dengan bantuan dan perwakilan Doha dan mengangkut pemegang paspor asing.

Intervensi AS selama dua dasawarsa di Afghanistan berakhir dengan pengangkutan udara lebih dari 120.000 orang dari Kabul saat Taliban kembali berkuasa. AS menarik pasukan terakhirnya dari Afghanistan pada 30 Agustus, mengakhiri perang terpanjangnya tepat sebelum peringatan 11 September 2001, serangan yang memicu invasinya.

Selanjutnya: Taliban izinkan wanita belajar di universitas, namun syaratnya ini

 

Editor: Handoyo .

Terbaru