kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.047.000   8.000   0,26%
  • USD/IDR 16.916   -54,00   -0,32%
  • IDX 7.432   94,71   1,29%
  • KOMPAS100 1.037   16,19   1,59%
  • LQ45 761   10,09   1,34%
  • ISSI 261   3,64   1,41%
  • IDX30 402   4,80   1,21%
  • IDXHIDIV20 496   3,26   0,66%
  • IDX80 117   1,76   1,54%
  • IDXV30 134   1,27   0,95%
  • IDXQ30 130   1,36   1,06%

Ringgit Malaysia dan Rupiah Memimpin Penguatan Mata Uang Asia pada Selasa (10/3) Pagi


Selasa, 10 Maret 2026 / 09:25 WIB
Ringgit Malaysia dan Rupiah Memimpin Penguatan Mata Uang Asia pada Selasa (10/3) Pagi
ILUSTRASI. Ringgit Malaysia (REUTERS/Thomas White)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Pasar valuta asing Asia pada Selasa (10/3/2026) menunjukkan penguatan yang cukup signifikan terhadap dolar AS, dipimpin oleh Ringgit Malaysia dan Rupiah.

Kenaikan ini terjadi di tengah optimisme investor bahwa konflik di Timur Tengah bisa segera mereda, yang secara tidak langsung menenangkan kekhawatiran pasar terkait lonjakan harga minyak dan tekanan inflasi global.

Baca Juga: Harga Minyak Melonjak, Singapura Waspada Dampaknya pada Inflasi dan Biaya Hidup

Melansir data Reuters pada 0203 GMT, Ringgit Malaysia tercatat naik 0,71% menjadi 3,932 per dolar AS, sementara Rupiah Indonesia menguat 0,44% ke level 16.860 per dolar AS.

Penguatan ini juga menandai tren positif sejak awal 2026, di mana Ringgit telah menguat 3,15% dan Rupiah 1,13% dibandingkan posisi akhir 2025.

Yuan China pun menunjukkan penguatan sebesar 1,52% ke 6,884 per dolar AS, mengikuti optimisme regional.

Mata uang lainnya menunjukkan pergerakan yang lebih moderat. Dolar Singapura naik tipis 0,02% menjadi 1,274, sementara Yen Jepang hanya bergerak stabil di 157,610 per dolar.

Di sisi lain, beberapa mata uang masih melemah jika dihitung sejak akhir 2025, seperti Won Korea (-2,16%) dan Yen Jepang (-0,61%).

Baca Juga: Dolar Melemah Seiring Harga Minyak Turun, Perang Iran Bisa Segera Berakhir

Analis mengatakan, penguatan mata uang Asia sebagian besar didorong oleh sentimen pasar bahwa perang di Timur Tengah, yang sebelumnya memicu lonjakan harga minyak hingga menimbulkan kekhawatiran inflasi, bisa segera berakhir.

Optimisme ini mendorong investor untuk kembali ke aset berisiko, sehingga mengurangi permintaan untuk dolar AS sebagai safe haven.

“Kenaikan Ringgit dan Rupiah mencerminkan sentimen positif investor terhadap stabilitas ekonomi regional, terutama setelah kekhawatiran terkait pasokan energi global sedikit mereda,” ujar pengamat pasar di Singapura.

Baca Juga: Mesir Naikkan Harga Bahan Bakar Hingga 17% di Tengah Gejolak Energi Global

Dengan kondisi ini, investor kini memantau perkembangan konflik di Timur Tengah dan harga minyak global, yang akan menentukan arah lanjutan pergerakan mata uang Asia dalam beberapa pekan ke depan.

Penguatan awal Ringgit dan Rupiah memberikan sedikit “nafas” bagi pasar regional, meskipun ketidakpastian global masih membayangi.




TERBARU
Kontan Academy
Kontan Digital Premium Access Financial Statement in Action

[X]
×