Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Risalah rapat itu dirilis pada Rabu, sehari setelah Amerika Serikat dan Iran menyepakati gencatan senjata dua minggu. Kabar tersebut menyebabkan harga minyak turun lebih dari 15% menjadi sekitar US$ 92 per barel.
Perbedaan pandangan para pembuat kebijakan dalam rapat bulan lalu menyoroti bagaimana konflik di Timur Tengah, yang mengganggu pengiriman global dan menyebabkan harga minyak melonjak lebih dari 50%, menarik The Fed ke dua arah yang saling bertentangan, sehingga mengancam target inflasi sekaligus mandat ketenagakerjaan penuh (full employment).
Dalam rapat tersebut, The Fed mengisyaratkan bahwa mereka kecil kemungkinan mengubah suku bunga kebijakan sampai lebih jelas apakah dampaknya terhadap inflasi atau pasar tenaga kerja menjadi risiko yang lebih besar.
Dalam proyeksi ekonomi baru yang dirilis bersamaan dengan pernyataan kebijakan, para pejabat memperkirakan inflasi lebih tinggi untuk tahun ini, namun hanya sedikit perubahan pada tingkat pengangguran.
Tonton: BREAKING: Mojtaba Khamenei Kritis! Israel Sebut Pemimpin Iran Tak Sadarkan Diri
Dalam paparan pada rapat itu, staf The Fed melihat adanya risiko bahwa pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja akan lebih lemah, sementara inflasi lebih tinggi dibanding perkiraan dalam proyeksi Januari, mengingat “potensi dampak ekonomi dari perkembangan di Timur Tengah, perubahan kebijakan pemerintah, serta adopsi AI.”
Dengan inflasi berada di atas target sejak 2021, “risiko yang menonjol adalah inflasi bisa terbukti lebih persisten daripada yang diperkirakan staf.”













