Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio menegaskan bahwa upaya Washington membangun hubungan yang lebih positif dengan China tidak berarti Amerika akan mengurangi komitmennya terhadap sekutu-sekutunya di kawasan Asia.
Pernyataan itu disampaikan Rubio pada Kamis (23/7/2026) di sela-sela pertemuan para menteri luar negeri dalam ASEAN Regional Forum (ARF) dan East Asia Summit di Manila, Filipina, yang berlangsung di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah.
Baca Juga: Stok Produk Minyak Singapura Turun ke Level Terendah dalam Enam Pekan
Mengutip Reuters, penegasan tersebut disampaikan sehari setelah Rubio bertemu Menteri Luar Negeri China Wang Yi.
Dalam pertemuan itu, kedua pihak membahas persiapan kemungkinan kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Amerika Serikat pada September mendatang.
Rubio menekankan bahwa hubungan yang konstruktif dengan Beijing tidak akan mengorbankan kepentingan maupun keamanan para mitra Washington di kawasan Indo-Pasifik.
"Kami sudah hadir di kawasan ini. Kami memiliki peran dan kami tidak akan meninggalkan sekutu-sekutu kami. Kami telah menyampaikannya dengan sangat jelas," ujar Rubio kepada wartawan.
Baca Juga: Bursa Kripto BitMEX Tutup Operasi per September, Minta Nasabah Tarik Dana
Ia menambahkan bahwa Amerika Serikat dan China sebagai dua ekonomi terbesar dunia, kekuatan militer besar, sekaligus negara pemilik senjata nuklir, tetap harus menjaga hubungan yang stabil.
"Kami harus memiliki hubungan dengan China. Kami ingin hubungan itu sepositif mungkin, tetapi itu tidak akan mengorbankan sekutu, mitra kami di kawasan, maupun kehadiran kami di sini," katanya.
Konflik Timur Tengah jadi perhatian utama
Forum keamanan di Manila kali ini berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan akibat perang antara Iran dan Amerika Serikat serta blokade di Selat Hormuz yang mengancam pasokan energi global.
Bagi negara-negara anggota ASEAN, konflik tersebut menjadi perhatian serius mengingat kawasan sangat bergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah.
Baca Juga: BMW Tarik 318.495 Mobil di AS, Risiko Starter Mesin Picu Kebakaran
Menteri Luar Negeri Filipina Maria Theresa Lazaro, yang memimpin pertemuan, mengatakan situasi geopolitik dan geoekonomi dunia saat ini semakin tidak menentu.
"Kita berkumpul di tengah ketidakpastian geopolitik dan geoekonomi yang sangat besar. Tidak ada satu negara pun yang mampu menghadapi tantangan keamanan yang kompleks saat ini sendirian," ujarnya.
Rubio juga mengaku frustrasi terhadap proses diplomasi dengan Iran.
Menurut dia, Teheran terus mengubah posisi dalam proses negosiasi meski mengalami tekanan militer yang semakin besar.
"Tampaknya mereka belum siap mencapai kesepakatan. Karena itu mereka akan terus membayar harga, dan setiap malam harga yang harus mereka bayar semakin tinggi," kata Rubio.
Hingga Rabu malam, militer AS telah melancarkan serangan selama 12 malam berturut-turut terhadap Iran.
Sementara itu, kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah sebagai bagian dari blokade yang dinilai dapat mengganggu jalur pasokan energi global selain Selat Hormuz.
Baca Juga: China Minta Masukan Soal Pemangkasan Tarif dengan AS, Bidik Perdagangan US$ 30 Miliar
Ketegangan Laut China Selatan kembali meningkat
Selain konflik Timur Tengah, isu Laut China Selatan juga menjadi agenda penting dalam forum tersebut.
Pada Kamis, terjadi insiden kedua dalam empat hari terakhir antara kapal penjaga pantai China dan Filipina di sekitar Scarborough Shoal, salah satu wilayah sengketa paling sensitif di Laut China Selatan.
Baca Juga: Serangan Drone Ukraina Bidik Wildberries, Raksasa E-Commerce Rusia
Penjaga Pantai China menuduh Filipina melakukan tindakan provokatif dengan memasuki wilayah yang diklaim Beijing.
Sementara Manila menyatakan kapal China kembali menggunakan meriam air (water cannon) terhadap kapal Filipina.
Insiden itu terjadi hanya beberapa hari setelah bentrokan lain pada Senin di kawasan terumbu karang yang juga berada di dalam zona ekonomi eksklusif (ZEE) Filipina.
Rubio menyebut insiden tersebut mengkhawatirkan dan kembali menegaskan komitmen Amerika Serikat terhadap sekutu perjanjiannya.
"Seluruh dunia melihat apa yang terjadi. Ini mengkhawatirkan. Itulah sebabnya kami terus menegaskan komitmen terhadap mitra perjanjian kami, kebebasan navigasi, dan penghormatan terhadap hak-hak teritorial," ujarnya.
China mengklaim hampir seluruh wilayah Laut China Selatan, termasuk sebagian kawasan yang berada di dalam zona ekonomi eksklusif Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Vietnam.
Sehari sebelumnya, Wang Yi meminta negara-negara ASEAN bekerja sama dengan China untuk menjaga perdamaian di Laut China Selatan dan "menolak hasutan kekuatan asing."
Baca Juga: Dua Supertanker China Angkut 4 Juta Barel Minyak Saudi Melintasi Laut Merah
Bahas Ukraina hingga latihan militer China
Di sela-sela forum, Rubio juga mengadakan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov selama hampir satu jam.
Menurut Kementerian Luar Negeri Rusia, Lavrov kembali menegaskan kesiapan Moskow mencari penyelesaian politik dan diplomatik atas perang di Ukraina.
Rubio mengatakan Amerika Serikat siap memainkan peran yang konstruktif untuk mengakhiri perang tersebut, meski mengakui mencapai kesepakatan yang dapat diterima semua pihak tetap menjadi tantangan besar.
Sementara itu, otoritas maritim China mengumumkan dimulainya latihan tembak langsung selama dua hari di sejumlah wilayah Selat Taiwan, dekat Provinsi Fujian.
Latihan tersebut menyusul rangkaian latihan militer besar China pada Desember lalu yang mengelilingi Taiwan, pulau yang memiliki pemerintahan sendiri tetapi diklaim Beijing sebagai bagian dari wilayahnya.














