Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Persediaan produk minyak di Singapura, pusat perdagangan energi utama di Asia, turun ke level terendah dalam enam pekan pada periode yang berakhir 22 Juli.
Penurunan terutama dipicu oleh berkurangnya stok produk minyak bersih (clean petroleum products), di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan minyak global.
Mengutip Reuters, data Enterprise Singapore yang dirilis Kamis (23/7/2026) menunjukkan total persediaan produk minyak di terminal darat (onshore) mencapai 39,64 juta barel, turun 1,5% dibandingkan pekan sebelumnya.
Baca Juga: Bursa Kripto BitMEX Tutup Operasi per September, Minta Nasabah Tarik Dana
Meski demikian, level tersebut masih lebih tinggi dibandingkan rata-rata mingguan bulan lalu yang berada di kisaran 37,5 juta barel.
Penurunan stok didorong oleh berkurangnya persediaan produk ringan (light distillates) dan distilat menengah (middle distillates), meskipun sebagian diimbangi oleh kenaikan stok minyak berat (heavy distillates).
Pasar minyak kembali menghadapi ketidakpastian setelah meningkatnya risiko terhadap jalur pelayaran utama dunia.
Serangan kelompok Houthi di Yaman terhadap kapal tanker di Laut Merah, serta berlanjutnya serangan antara Amerika Serikat dan Iran, memicu kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan minyak global.
Baca Juga: BMW Tarik 318.495 Mobil di AS, Risiko Starter Mesin Picu Kebakaran
Stok bensin dan nafta turun
Persediaan light distillates, yang mencakup bensin dan nafta, turun untuk pekan keempat berturut-turut menjadi 11,47 juta barel.
Penurunan stok terjadi karena ekspor bensin bersih lebih besar dibandingkan impor.
Total ekspor bensin mencapai sekitar 361.000 metrik ton, melampaui impor sekitar 265.000 ton.
Indonesia menjadi tujuan ekspor terbesar dengan volume hampir 128.000 ton, disusul Australia dan Malaysia.
Di sisi impor, Korea Selatan menjadi pemasok utama bensin ke Singapura dengan sekitar 102.000 ton, diikuti Arab Saudi sekitar 57.000 ton.
Untuk nafta, impor turun sekitar 34% menjadi 194.000 ton, sedangkan ekspor melonjak sekitar 58% menjadi 166.000 ton.
Sebagian besar impor nafta berasal dari Oman, Malaysia, Kuwait, dan Rusia, sementara ekspor utamanya ditujukan ke Thailand dan Malaysia.
Baca Juga: China Minta Masukan Soal Pemangkasan Tarif dengan AS, Bidik Perdagangan US$ 30 Miliar
Stok solar turun, bahan bakar minyak naik
Persediaan middle distillates, yang mencakup solar (diesel/gasoil) dan bahan bakar pesawat (jet fuel), turun ke level terendah dalam tiga pekan menjadi sekitar 8,7 juta barel.
Ekspor bersih diesel dan gasoil turun hampir 28%, sedangkan ekspor bersih jet fuel dan minyak tanah (kerosin) meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan pekan sebelumnya.
Impor diesel terutama berasal dari Korea Selatan, Taiwan, dan Malaysia, sedangkan ekspornya ditujukan ke Australia dan Filipina.
Data Kpler menunjukkan lebih banyak kargo diesel dari Korea Selatan diperkirakan tiba di Singapura dalam dua pekan ke depan.
Sementara itu, impor jet fuel relatif minim, sedangkan ekspor sebagian besar dikirim ke kawasan Kepulauan Pasifik.
Pelaku pasar juga memperkirakan pasokan jet fuel asal China akan meningkat dalam beberapa pekan mendatang seiring bertambahnya transaksi penjualan di pasar spot.
Berbeda dengan produk minyak bersih, persediaan minyak bakar (fuel oil) atau residual fuel oil naik 1,8% menjadi 19,46 juta barel atau sekitar 3,06 juta ton, level tertinggi dalam tiga pekan.
Baca Juga: Dua Supertanker China Angkut 4 Juta Barel Minyak Saudi Melintasi Laut Merah
Kenaikan tersebut didukung lonjakan impor fuel oil sebesar 65,4% menjadi lebih dari 866.000 ton. Nigeria menjadi pemasok terbesar, disusul Brasil.
Pasokan dari Timur Tengah masih terbatas, meski terdapat pengiriman dari Arab Saudi sekitar 37.000 ton dan Uni Emirat Arab sekitar 49.000 ton.
Di sisi lain, ekspor fuel oil dari Singapura meningkat 24,5% menjadi lebih dari 352.000 ton, dengan China menjadi tujuan ekspor utama.














