Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah mencapai level terkuat dalam hampir empat bulan pada hari ini dan memimpin penguatan mata uang di kawasan Asia, di tengah pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya arus masuk investasi.
Indeks MSCI untuk mata uang pasar berkembang naik hingga 0,2% ke rekor tertinggi seiring melemahnya dolar AS menjelang rilis data inflasi penting AS akhir pekan ini.
Rabu (9/9/2026) pukul 15.00 WIB, rupiah memimpin penguatan di kawasan ini, setelah ditutup menguat 0,69% ke Rp 17.511 per dolar AS. Bahkan, rupiah sempat menguat ke level 17.490 per dolar, level terkuatnya sejak pertengahan Mei.
Baca Juga: Indeks Nikkei Jepang Ditutup Melemah: Timur Tengah Panas Kalahkan Antusiasme ke AI
Melemahnya dolar AS dan membaiknya iklim arus modal mendorong penguatan rupiah hari itu, kata Fakhrul Fulvian, kepala ekonom di Trimegah Securities.
Namun, rupiah masih turun hampir 5% sepanjang tahun ini dan menjadikannya salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan tersebut.
Rupiah turun 5,2% pada kuartal II-2026—penurunan kuartalan terbesar tahun ini—saat negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara itu menghadapi guncangan harga minyak serta kekhawatiran mengenai disiplin fiskal, independensi bank sentral, dan regulasi pasar saham. I
Indonesia masih membutuhkan arus masuk dana asing yang cukup besar untuk menjaga keseimbangan eksternal yang aman, ujar Fulvian.
"Estimasi kami tetap di kisaran US$ 11 miliar, jadi saya tidak bisa mengatakan bahwa kerentanan rupiah telah hilang."
Di tempat lain, ringgit Malaysia melemah ke level 4,0685 per dolar, bergerak di dekat level terendahnya sejak pertengahan Agustus.
Di pasar ekuitas, indeks saham MSCI EM Asia—yang didominasi oleh Korea Selatan dan Taiwan yang sarat dengan perusahaan teknologi AI—naik hingga 1%.
Indeks KOSPI Korea Selatan berhasil ditutup menguat 1,4%—level penutupan tertinggi sejak 23 Juli—seiring menguatnya saham-saham produsen chip setelah Indeks Semikonduktor Philadelphia naik 1,3% pada perdagangan semalam.
Baca Juga: Permintaan Minyak China Diproyeksi Turun 600.000 Barel per Hari pada 2026
Saham produsen cip SK Hynix naik 3,5%, mencatatkan kenaikan selama empat sesi berturut-turut, sementara pesaingnya, Samsung Electronics, berakhir stagnan setelah sempat naik hingga 2%.
Di Asia Tenggara, bursa saham Indonesia turun hingga 0,7%, sedangkan pasar Taipei ditutup naik 0,2%. Saham Manila naik 0,2%, sementara ekuitas Thailand sedikit melemah dan pasar Malaysia stagnan.
Pasar saham regional, yang sebagian besar bergantung pada impor energi, tidak mencatatkan penurunan tajam meskipun harga minyak naik melampaui US$ 100 per barel akibat kembali memanasnya konflik di Timur Tengah.
"Guncangan harga minyak ini tidak bisa serta-merta ditafsirkan sebagai sentimen penghindaran risiko (risk-off) bagi Asia; guncangan yang sama justru menimbulkan dampak neraca pembayaran yang sangat berbeda di berbagai negara," ujar Fulvian.
"Kita perlu mencermati siapa yang mengimpor energi, siapa yang mengekspor komoditas, dan neraca keuangan pihak mana yang pada akhirnya menanggung beban guncangan tersebut."
Sementara itu, indeks FTSE Straits Times Singapura turun hingga 1,1% dan berada di jalur penurunan untuk sesi ketiga berturut-turut.
Baca Juga: Harga Minyak Brent Tembus ke US$ 100, Seiring Meningkatnya Konflik di Timur Tengah
"Menurut saya, pelemahan Singapura belakangan ini sebagian merupakan konsekuensi dari penguatan sebelumnya. Setelah sempat menjadi salah satu pasar terkuat di Asia, memburuknya kondisi global secara alami memicu aksi ambil untung dan penyesuaian valuasi," kata Fulvian.
Nilai tukar dolar Singapura terpantau stagnan. Di tempat lain, baht Thailand sedikit menguat, sedangkan peso Filipina melemah tipis ke level 62,431 per dolar AS. Mata uang won menguat terhadap dolar AS ke posisi 1.335,70.














