kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.627.000   -10.000   -0,38%
  • USD/IDR 17.658   1,00   0,01%
  • IDX 6.686   66,77   1,01%
  • KOMPAS100 877   10,98   1,27%
  • LQ45 666   9,17   1,40%
  • ISSI 233   2,34   1,01%
  • IDX30 372   4,41   1,20%
  • IDXHIDIV20 459   4,13   0,91%
  • IDX80 100   1,30   1,32%
  • IDXV30 127   1,31   1,04%
  • IDXQ30 119   1,06   0,90%

Rusia Gempur Kyiv dengan Drone dan Rudal, Dua Orang Tewas


Selasa, 08 September 2026 / 16:12 WIB
Rusia Gempur Kyiv dengan Drone dan Rudal, Dua Orang Tewas
ILUSTRASI. Rusia kembali melancarkan serangan udara besar-besaran ke Kyiv, Ukraina, pada Selasa (8/9/2026), menggunakan drone dan rudal (via REUTERS/STATE EMERGENCY SERVICE OF UKRAI)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - KYIV. Rusia kembali melancarkan serangan udara besar-besaran ke Kyiv, Ukraina, pada Selasa (8/9/2026), menggunakan drone dan rudal. Serangan tersebut menewaskan dua orang dan memicu kebakaran di sejumlah lokasi di ibu kota Ukraina.

Wali Kota Kyiv Vitali Klitschko mengatakan sedikitnya 10 orang lainnya mengalami luka-luka akibat serangan tersebut. Puing-puing yang jatuh di salah satu distrik juga memicu kebakaran pada sebuah gedung apartemen lima lantai dan bangunan tempat tinggal tiga lantai.

Pejabat setempat menyebut serangan Rusia tersebut menyebabkan kerusakan pada sedikitnya 14 gedung bertingkat, asrama, sekolah, klinik, gudang, serta sejumlah fasilitas lainnya.

Serangan Kembali Berlanjut

Serangan udara Rusia kembali terjadi setelah sempat mereda selama kunjungan utusan perdamaian Amerika Serikat (AS) ke Kyiv.

Utusan perdamaian AS Jared Kushner dan Steve Witkoff meninggalkan Kyiv setelah bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy pada Minggu. Kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintahan Presiden AS Donald Trump untuk kembali mendorong penyelesaian perang Rusia-Ukraina yang telah berlangsung selama sekitar 4,5 tahun.

Baca Juga: Rusia dan Korea Utara Buka Jembatan Jalan Pertama, Perkuat Kerja Sama Strategis

Kushner dan Witkoff sebelumnya datang dari Moskow untuk melakukan pembicaraan. Setelah pertemuan tersebut, Kremlin menyatakan tidak menutup kemungkinan dimulainya kembali negosiasi tiga pihak.

Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha mengecam serangan terbaru Rusia tersebut.

"Begitu utusan perdamaian presiden AS meninggalkan Kyiv, (Presiden Rusia Vladimir) Putin melancarkan serangan besar-besaran dan mengerikan lainnya terhadap Kyiv," ujar Sybiha melalui X.

"Rudal balistiknya berbicara lebih keras daripada kata-katanya tentang diplomasi," lanjut Sybiha.

Sybiha juga mendesak negara-negara sekutu untuk meningkatkan tekanan terhadap Moskow serta memberikan tambahan rudal pencegat yang dapat digunakan untuk menghadapi serangan rudal balistik Rusia.

Menurutnya, persediaan rudal pencegat Ukraina kini berada pada tingkat yang sangat kritis.

Sebelum pertemuan para utusan AS tersebut, Rusia telah meningkatkan intensitas serangan udara terhadap Kyiv dan wilayah sekitarnya. Serangan bahkan berlangsung hampir sepanjang hari selama beberapa hari, tidak lagi hanya dilakukan pada malam hari.

Rusia juga menggunakan drone bertenaga jet yang memiliki kecepatan lebih tinggi. Serangan tersebut sebelumnya telah menewaskan warga dan mengganggu aktivitas masyarakat di Kyiv.

Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan bahwa militernya menyerang target militer dan logistik di Kyiv serta wilayah sekitarnya. Serangan juga dilaporkan menyasar wilayah pelabuhan Chornomorsk di Laut Hitam.

Baca Juga: Trump Ancam Larang Jet Bombardier Dijual di AS, Wajib Produksi Lokal

Polandia Kerahkan Pesawat

Serangan Rusia terhadap Ukraina turut memicu peningkatan kewaspadaan di negara-negara NATO yang berbatasan dengan Ukraina.

Polandia, yang merupakan anggota NATO dan Uni Eropa, mengaktifkan operasi pencegahan untuk mengantisipasi kemungkinan ancaman serangan rudal Rusia terhadap wilayah Ukraina.

Militer Polandia mengatakan langkah tersebut dilakukan ketika suara ledakan terdengar di Kyiv.

Bandara Lublin di Polandia juga untuk sementara menghentikan penerbangan akibat aktivitas militer tersebut.

Sementara itu, serangan drone Ukraina dilaporkan turut menimbulkan kerusakan di wilayah Rusia.

Gubernur wilayah Saratov mengatakan drone Ukraina merusak sejumlah infrastruktur sipil dan menyebabkan beberapa orang terluka di kota Saratov. Kota tersebut berada sekitar 730 kilometer sebelah tenggara Moskow.

Saratov merupakan lokasi kilang minyak besar yang dioperasikan perusahaan minyak milik negara Rusia, Rosneft, selain sejumlah fasilitas industri dan militer lainnya.

Serangkaian serangan terbaru ini terjadi ketika upaya diplomatik untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina kembali didorong oleh pemerintahan Trump. Namun, meningkatnya serangan udara menunjukkan bahwa jalur diplomasi masih menghadapi tantangan besar di tengah berlanjutnya konflik antara Moskow dan Kyiv.


Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×