Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Samsung Electronics memperkirakan kekurangan pasokan chip memori global akan semakin parah pada 2027 dan berlanjut hingga 2028.
Proyeksi tersebut disampaikan setelah perusahaan membukukan lonjakan laba bisnis semikonduktor lebih dari 250 kali lipat pada kuartal II 2026, sekaligus meredakan kekhawatiran investor mengenai potensi perlambatan belanja kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) oleh perusahaan teknologi besar.
Pernyataan optimistis Samsung mendorong harga saham produsen chip memori terbesar di dunia itu sempat melonjak hingga 8% pada perdagangan Kamis (30/7/2026). Namun, saham kemudian memangkas kenaikan dan ditutup melemah sekitar 1,1%.
"Kekurangan pasokan pada 2027 diperkirakan akan semakin parah dibandingkan tahun ini, dan diperkirakan akan terus berlanjut hingga 2028," ujar Executive Vice President Memory Business Samsung, Jaejune Kim, kepada para analis dalam konferensi paparan kinerja.
Kim mengungkapkan Samsung telah menandatangani kontrak pasokan jangka panjang dengan lima perusahaan pusat data (data center) terbesar di dunia. Selain itu, perusahaan juga hampir menyelesaikan kesepakatan serupa dengan lima perusahaan besar lainnya, meski tidak mengungkapkan identitas para pelanggan tersebut.
Baca Juga: Pasar Properti Australia Melambat, Pengajuan KPR di NAB Merosot
Menurut dia, kontrak jangka panjang tersebut memiliki masa berlaku sedikitnya lima tahun dan mencakup sekitar 60% hingga 70% dari total kapasitas produksi Samsung dalam jangka panjang. Kesepakatan itu juga mencakup pembayaran di muka serta mekanisme harga minimum untuk mengurangi risiko investasi modal perusahaan.
"Komentar manajemen dalam konferensi tersebut lebih baik dari yang kami perkirakan dan menjadi salah satu paparan yang paling meyakinkan yang kami dengar dalam waktu yang cukup lama," kata analis senior NH Investment & Securities, Ryu Young-ho.
Kekhawatiran AI Mulai Mereda
Pandangan optimistis Samsung muncul setelah saham-saham perusahaan chip global mengalami tekanan dalam beberapa bulan terakhir. Investor sebelumnya khawatir pembangunan infrastruktur AI akan melambat akibat tingginya kebutuhan pendanaan, ditambah persaingan dari produsen asal China yang berpotensi menekan profitabilitas industri semikonduktor.
Pada kuartal II 2026, divisi semikonduktor Samsung mencatat laba operasional sebesar 89,2 triliun won atau sekitar US$ 61,7 miliar. Angka tersebut melonjak lebih dari 250 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Namun, lonjakan harga chip memori justru berdampak negatif terhadap bisnis perangkat seluler Samsung. Divisi mobile perusahaan mencatat kerugian sebesar 700 miliar won, menjadi kuartal pertama yang mengalami rugi.
"Chip yang menghasilkan keuntungan besar bagi salah satu sisi bisnis Samsung kini justru membebani sisi lainnya, sehingga grup ini semakin bergantung pada harga chip memori dan keberlanjutan permintaan dari perusahaan hyperscaler," ujar analis eToro, Josh Gilbert.
Pendapatan HBM Diproyeksikan Melonjak
Samsung juga melaporkan pertumbuhan bisnis high bandwidth memory (HBM), jenis chip memori berkecepatan tinggi yang menjadi komponen penting dalam prosesor AI.
Perusahaan memperkirakan pendapatan dari HBM generasi terbaru, HBM4, akan meningkat lebih dari tiga kali lipat pada kuartal III 2026. Peningkatan tersebut diharapkan mampu mendongkrak pangsa pasar HBM Samsung hingga sejalan dengan pangsa pasar chip dynamic random access memory (DRAM) yang dimilikinya pada paruh kedua tahun ini.
Samsung saat ini memasok chip HBM kepada sejumlah perusahaan teknologi besar, termasuk Nvidia dan Advanced Micro Devices (AMD), untuk kebutuhan pengembangan prosesor AI.
Perusahaan juga menyatakan bisnis foundry atau manufaktur chip pesanan diperkirakan akan kembali mencatatkan pertumbuhan "dalam waktu dekat" seiring meningkatnya tingkat utilisasi pabrik dan harga chip.
Samsung menegaskan pembangunan fasilitas produksi chip (fab) di Taylor, Texas, masih sesuai jadwal dan ditargetkan mulai beroperasi tahun ini. Perusahaan juga berencana memulai pembangunan pabrik kedua yang diperkirakan mulai berproduksi massal pada 2030.
Baca Juga: Telegram Digugat Australia, Terancam Denda A$54,6 Juta
Pendapatan Naik 130%
Secara keseluruhan, Samsung membukukan laba operasional sebesar 89,5 triliun won atau sekitar US$ 61,98 miliar pada periode April-Juni 2026. Realisasi tersebut sejalan dengan proyeksi perusahaan sebesar 89,4 triliun won dan melonjak dibandingkan laba 4,68 triliun won pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, pendapatan perusahaan asal Korea Selatan tersebut meningkat 130% secara tahunan menjadi 171,5 triliun won.
Di sisi lain, pesaing utamanya, SK Hynix, sehari sebelumnya juga melaporkan kinerja kuartalan yang sangat kuat. Namun, hasil tersebut masih berada di bawah ekspektasi tinggi investor. Perusahaan itu juga mengumumkan rencana menaikkan belanja modal sekitar 50% tahun ini untuk memenuhi lonjakan permintaan chip AI.
Chief Financial Officer Samsung, Park Soon-cheol, mengatakan perusahaan tidak berencana menerbitkan American Depositary Receipts (ADR) meski SK Hynix telah melantai di pasar Amerika Serikat pada awal bulan ini.
Menurut Park, Samsung tidak memiliki kebutuhan mendesak untuk mencari pendanaan baru karena perusahaan masih memiliki arus kas yang kuat berkat portofolio bisnis yang terdiversifikasi.














