Sumber: Fortune | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
“Dengan pertumbuhan laba yang berlanjut dan perusahaan yang tetap disiplin dengan rencana alokasi modal, kami memperkirakan pembelian kembali saham (buyback) tetap kuat,” lanjutnya.
Sementara itu, JPMorgan memperkirakan, pada 2026 S&P 500 akan berakhir di level 7.500, namun peluang mencapai 8.000 terbuka jika Federal Reserve terus menurunkan suku bunga.
Analis menyebut sejumlah faktor pendorongnya seperti pertumbuhan laba di atas tren, ledakan belanja modal terkait AI, peningkatan pembagian keuntungan untuk investor, serta stimulus fiskal melalui pemotongan pajak dalam rancangan undang-undang Trump One Big Beautiful Bill Act.
Dan jika inflasi turun lebih cepat dari perkiraan, itu akan membuka ruang untuk pemangkasan suku bunga tambahan oleh The Fed, melampaui dua kali pemotongan yang saat ini diprediksi JPMorgan.
“Selain itu, manfaat peningkatan produktivitas berbasis AI dan dampak deregulasi terhadap pertumbuhan laba masih diremehkan,” tulis JPMorgan.
Tonton: Perang Trump dan China Belum Usai! Bursa Dunia dan Indonesia Terguncang
Kesimpulan
Artikel ini menggambarkan optimisme besar di pasar saham AS menjelang akhir 2025, dengan analis memprediksi reli berkelanjutan ke 2026. Meski sempat dipengaruhi kekhawatiran akan gelembung AI dan kebijakan suku bunga, pasar kembali menguat. Beberapa bank besar dan analis memproyeksikan kenaikan indeks S&P 500 ke level 7.500–8.000 dalam dua tahun ke depan, ditopang pertumbuhan laba, belanja AI, buyback saham, pemangkasan regulasi, dan potensi pemotongan suku bunga. Namun, narasi ini tampak sangat bullish, sehingga risiko seperti geopolitik, inflasi ulang, atau koreksi AI tidak banyak dibahas dalam proyeksi tersebut.













