Sumber: Fortune | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Biasanya reli Santa Claus rally dimulai di akhir Desember, tetapi Wall Street tampaknya sudah menunjukkan nuansa liburan lebih cepat. Dan ini bisa menjadi pembuka bagi tahun kuat lain untuk pasar saham pada 2026.
Mengutip Fortune.com, selama pekan Thanksgiving yang lebih pendek, indeks Dow Jones Industrial Average naik lebih dari 3%, S&P 500 melonjak hampir 4%, dan Nasdaq naik lebih dari 4%.
Ini terjadi setelah aksi jual tajam di awal bulan karena kekhawatiran gelembung AI pecah dan indikasi bahwa Federal Reserve tidak akan memangkas suku bunga sedalam yang diperkirakan pasar.
“Santa sudah kembali,” kata veteran pasar Ed Yardeni dalam sebuah catatan pada Sabtu (29/11/2025).
Namun, aksi jual panik pada bitcoin, yang menurut Yardeni dan analis lain turut memicu tekanan pasar sebelumnya, mulai mereda. Dan, kini, saham bersiap untuk reli akhir tahun.
Yardeni mempertahankan pandangannya bahwa S&P 500 akan menyentuh level 7.000 pada akhir tahun, bahkan menyebut indeks bisa mencapai level tersebut dalam minggu mendatang.
Jika itu terjadi, S&P 500 akan menutup 2025 dengan kenaikan 19%, setelah mencatat kenaikan lebih dari 20% dalam dua tahun terakhir.
Baca Juga: Buffett Diam-Diam Taruh 25% Portofolionya di Saham AI — Ini Daftarnya
Dan reli pasar masih berpotensi lanjut. Awal pekan ini, Yardeni kembali menegaskan proyeksinya bahwa indeks akan meroket ke 7.700 pada 2026, naik 10% dari targetnya untuk 2025.
“Kami memperkirakan 2026 akan menjadi tahun lain dalam era Roaring 2020s, yang masih menjadi skenario dasar kami,” tulisnya. “Skenario Roaring 2020s kami telah berjalan baik selama enam tahun sejak pertama kali kami prediksi pada 2020.”
Pertumbuhan PDB, konsumsi, dan laba korporasi masih dalam tren solid. Yardeni menilai dekade ini akan terhindar dari resesi besar menyeluruh, meskipun resesi sektoral (rolling recessions) mungkin terjadi di beberapa industri.
Deutsche Bank bahkan lebih optimistis, yakni dengan memprediksi S&P 500 akan berakhir tahun depan di level 8.000, atau naik 17% dari penutupan Jumat.
“Kami melihat pasar saham terus mendapat dukungan dari booming aliran dana lintas aset,” tulis analis Deutsche Bank.
Baca Juga: Robert Kiyosaki: Jutaan Orang Akan Kehilangan Semuanya, Tapi Krisis Bisa Bikin Kaya
“Dengan pertumbuhan laba yang berlanjut dan perusahaan yang tetap disiplin dengan rencana alokasi modal, kami memperkirakan pembelian kembali saham (buyback) tetap kuat,” lanjutnya.
Sementara itu, JPMorgan memperkirakan, pada 2026 S&P 500 akan berakhir di level 7.500, namun peluang mencapai 8.000 terbuka jika Federal Reserve terus menurunkan suku bunga.
Analis menyebut sejumlah faktor pendorongnya seperti pertumbuhan laba di atas tren, ledakan belanja modal terkait AI, peningkatan pembagian keuntungan untuk investor, serta stimulus fiskal melalui pemotongan pajak dalam rancangan undang-undang Trump One Big Beautiful Bill Act.
Dan jika inflasi turun lebih cepat dari perkiraan, itu akan membuka ruang untuk pemangkasan suku bunga tambahan oleh The Fed, melampaui dua kali pemotongan yang saat ini diprediksi JPMorgan.
“Selain itu, manfaat peningkatan produktivitas berbasis AI dan dampak deregulasi terhadap pertumbuhan laba masih diremehkan,” tulis JPMorgan.
Tonton: Perang Trump dan China Belum Usai! Bursa Dunia dan Indonesia Terguncang
Kesimpulan
Artikel ini menggambarkan optimisme besar di pasar saham AS menjelang akhir 2025, dengan analis memprediksi reli berkelanjutan ke 2026. Meski sempat dipengaruhi kekhawatiran akan gelembung AI dan kebijakan suku bunga, pasar kembali menguat. Beberapa bank besar dan analis memproyeksikan kenaikan indeks S&P 500 ke level 7.500–8.000 dalam dua tahun ke depan, ditopang pertumbuhan laba, belanja AI, buyback saham, pemangkasan regulasi, dan potensi pemotongan suku bunga. Namun, narasi ini tampak sangat bullish, sehingga risiko seperti geopolitik, inflasi ulang, atau koreksi AI tidak banyak dibahas dalam proyeksi tersebut.













