Reporter: SS. Kurniawan | Editor: S.S. Kurniawan
KONTAN.CO.ID - Kekerasan atas perempuan dalam rumahtangga meningkat sejak banyak negara memberlakukan pembatasan lebih ketat, dengan melarang orang meninggalkan rumah mereka untuk menghentikan penyebaran virus corona baru.
Melansir Reuters, lembaga-lembaga yang menangani kekerasan atas perempuan dalam rumahtangga di seluruh Amerika Serikat (AS) menyebutkan, terjadi peningkatan permintaan bantuan. Menurut YWCA Northern New Jersey, kasus kekerasan dalam rumahtangga meningkat hingga 24%.
Advokat pengontrol senjata di AS, tempat toko senjata tetap boleh buka, mengatakan, mereka khawatir kepemilikan senjata api yang meningkat selama pandemi virus corona bisa menyebabkan lebih banyak kekerasan dalam rumahtangga.
Baca Juga: Presiden Putin: Wabah virus corona di Rusia semakin memburuk
Di Spanyol, aduan yang masuk ke saluran bantuan untuk perempuan yang menjadi korban kekerasan meningkat 12,4% dalam dua minggu pertama kebijakan lockdown berlaku dibanding periode sama tahun lalu.
Mengutip Reuters, Kementerian Pemberdayaan Perempuan Spanyol mengungkapkan, konsultasi online tentang kekerasan atas perempuan dalam rumahtangga melalui situs kementerian melonjak 270% sejak penguncian.
Di Italia, kelompok-kelompok anti-kekerasan terhadap perempuan dalam rumahtangga menyatakan, mereka cemas dengan penurunan tajam dalam laporan resmi kekerasan atas perempuan dalam rumahtangga sepanjang lockdown.
Baca Juga: Kasus baru corona terus turun, Korea siap longgarkan pembatasan sosial
Sebab, itu merupakan sinyal bahwa perempuan berisiko lebih terbuka terhadap kontrol dan agresi oleh pasangan mereka, karena para korban memiliki lebih banyak kesulitan untuk berkomunikasi selama penguncian.
Paus Fransiskus mengatakan, masyarakat harus berdiri di belakang perempuan korban kekerasan dalam rumahtangga, karena pelecehan meningkat di seluruh dunia selama penguncian untuk mengekang penyebaran virus corona baru.
Paus Fransiskus memuji wanita dalam peran di garis depan dalam membantu masyarakat mengatasi krisis virus corona, dengan menyebut dokter, perawat, petugas kepolisian, sipir penjara, dan karyawan di toko-toko yang menjual barang-barang penting.
Baca Juga: Kasus corona melambat, hari ini Spanyol mulai melonggarkan penguncian
Berbicara saat hari libur keagamaan dan nasional di Italia serta negara-negara lain, Senin (13/4), pemimpin tertinggi umat Katolik di dunia ini juga memuji banyak perempuan di rumah yang membantu anak-anak, orangtua, dan orang cacat.
Tetapi, berbicara dari perpustakaan resminya dan bukan dari jendela yang menghadap Lapangan Santo Petrus, Paus Fransiskus mengatakan: "Kadang-kadang mereka (wanita) berisiko menjadi korban kekerasan dalam hidup bersama yang mereka pikul seperti beban yang terlalu berat".
"Mari kita berdoa untuk mereka (perempuan yang menjadi korban kekerasan dalam rumahtangga), jadi Tuhan memberi mereka kekuatan dan agar komunitas kita mendukung mereka bersama keluarga mereka," katanya, seperti dikutip Reuters.













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)