Reporter: Syamsul Ashar | Editor: Syamsul Azhar
KONTAN.CO.ID - PARIS. Kekuatan besar Eropa yang dipimpin oleh Prancis dan Inggris secara resmi meluncurkan misi diplomatik dan militer terpadu untuk memastikan Selat Hormuz agar dibuka kembali sepenuhnya.
Langkah ini diambil guna membendung kekhawatiran lonjakan inflasi global akibat blokade yang sempat melumpuhkan urat nadi energi dunia tersebut.
Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menegaskan bahwa Prancis telah mengonsolidasikan dukungan dari 49 negara serta organisasi internasional.
Macron menggarisbawahi bahwa blokade yang diinisiasi Iran merespon serangan Amerika Serikat dan Israel telah membawa konsekuensi fatal bagi stabilitas bahan baku, mulai dari minyak, gas, hingga pupuk.
"Kami menuntut pembukaan Selat Hormuz secara penuh, segera, dan tanpa syarat. Kami menolak segala bentuk privatisasi selat maupun sistem pungutan liar," tegas Macron, Jumat 17 April di Paris seperti diunggah di akun resmi Youtube pemerintah Prancis @ELYSEE.
Ia juga memastikan kesiapan armada tempur Prancis, termasuk kapal induk Charles de Gaulle, untuk mengamankan perairan di Mediterania Timur hingga Laut Merah.
Baca Juga: Trump Galang Koalisi Amankan Selat Hormuz, Harga Minyak Tergelincir
Misi Defensif
Senada dengan Macron, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyatakan bahwa Inggris akan memimpin misi multinasional untuk memulihkan kebebasan navigasi.
PM Keir Starmer menekankan bahwa terbukanya Selat Hormuz adalah kunci utama untuk menjaga harga-harga tetap rendah di tingkat konsumen global.
Inggris dijadwalkan akan memperinci komposisi misi ini di London pada minggu depan, dengan dukungan dari sedikitnya 12 negara.
Di sisi lain, Jerman menyatakan dukungan penuh terhadap langkah diplomasi AS-Iran. Kanselir Jerman, Olaf Scholz, menegaskan pentingnya Iran untuk menghentikan program nuklir dan serangan terhadap stabilitas kawasan.
Jerman menyatakan kesiapannya menerjunkan Bundeswehr, selama mendapat mandat dari Dewan Keamanan PBB dan persetujuan Parlemen Jerman.
Baca Juga: Angkatan Laut UE Bakal Amankan Selat Hormuz yang Terganggu? Jerman Skeptis
Pangan dan Energi
Sementara, Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, memberikan peringatan keras terkait data ekonomi jika jalur ini tetap terganggu. Meloni mengungkapkan bahwa sekitar 20% konsumsi minyak dunia dan LNG melintasi selat ini.
Bahkan, 60% ketahanan pangan negara-negara di Teluk bergantung langsung pada kelancaran arus logistik di Hormuz.
"Kehadiran angkatan laut internasional diperlukan untuk pembersihan ranjau (sminamento) dan memberikan kepastian bagi industri maritim," ujar Meloni.
Italia pun bersedia mengerahkan unit angkatan lautnya di bawah payung operasi Aspides dan Atalanta, setelah mengantongi otorisasi parlemen.
Meskipun gencatan senjata antara Iran dan AS memberikan sinyal positif, para pemimpin Eropa tetap waspada mengingat AS masih memberikan indikasi untuk tetap mempertahankan blokade terhadap kapal-kapal Iran.
Pertemuan lanjutan di London pekan depan akan menjadi penentu apakah stabilitas di Selat Hormuz dapat bersifat permanen atau sekadar jeda taktis.
Tonton: Prabowo-Bahlil Gaspol! RI Segera Impor Minyak Rusia, LPG Ikut Dikejar













