kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45962,09   -6,07   -0.63%
  • EMAS925.000 0,43%
  • RD.SAHAM -0.19%
  • RD.CAMPURAN -0.05%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.12%

Shell berencana produksi bahan bakar penerbangan berkelanjutan


Senin, 20 September 2021 / 10:25 WIB
Shell berencana produksi bahan bakar penerbangan berkelanjutan
ILUSTRASI. Shell berencana produksi bahan bakar penerbangan berkelanjutan

Reporter: Adrianus Octaviano | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - LONDON. Royal Dutch Shell berencana memproduksi bahan bakar jet rendah karbon dalam skala besar pada tahun 2025. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya mendorong maskapai penerbangan dunia untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

Saat ini, penerbangan dianggap sebagai salah satu sektor terberat untuk ditangani karena kurangnya teknologi alternatif untuk mesin berbahan bakar jet. Shell berupaya menangani hal tersebut mengingat sektor ini menyumbang 3% dari emisi karbon dunia.

Shell berencana memproduksi 2 juta ton bahan bakar penerbangan berkelanjutan (SAF) pada tahun 2025 yang merupakan peningkatan sepuluh kali lipat dari total output global saat ini.

“Diproduksi dari minyak goreng bekas, lemak tumbuhan dan hewan, SAF dapat mengurangi hingga 80% emisi penerbangan,” kata Shell dikutip dari Reuters, Senin (20/9).

Baca Juga: Naikkan Investasi di Proyek Rendah Karbon, Chevron Menolak Kejar Target Emisi Nol

Produksi SAF ini pun sejalan dengan rencana beberapa negara seperti Amerika Serikat yang pada pekan lalu ingin mengurangi emisi gas rumah kaca pesawat sebesar 20% pada akhir dekade dengan secara signifikan meningkatkan penggunaan SAF.

Memang, saat ini ada beberapa tantangan seperti biaya SAF yang mencapai 8 kali lebih tinggi dari bahan bakar jet biasa, dan ketersediaan bahan baku yang terbatas. "Kami juga mengharapkan perusahaan lain untuk menambahkannya dengan pabrik produksi mereka sendiri," kepala Shell Aviation Anna Mascolo.

Shell sendiri akan membangun pabrik pengolahan biofuel di kilang Rotterdam dengan kapasitas tahunan sebesar 820.000 ton, dengan SAF ditetapkan untuk menghasilkan lebih dari setengah dari output. Pabrik tersebut diharapkan mulai berproduksi pada 2024.

Dalam sebuah laporan baru tentang dekarbonisasi penerbangan yang diterbitkan bersama dengan Deloitte, Shell menyerukan sektor penerbangan untuk mengurangi emisinya menjadi nol bersih pada tahun 2050.

Shell juga akan mengembangkan bahan bakar penerbangan sintetis yang terbuat dari hidrogen dan karbon daur ulang. “Avtur yang berkelanjutan, baik bio SAF maupun SAF sintetis, tetap menjadi satu-satunya solusi terbesar,” kata Mascolo.

Selanjutnya: Shell mendukung inovasi energi alternatif di kalangan anak muda

 




TERBARU
Kontan Academy
The Hybrid Salesperson The New Way to Sell in The New Era Kiat Menguasai Strategi Pemasaran untuk Pengembangan Pasar

[X]
×