kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.085.000   40.000   1,31%
  • USD/IDR 16.809   26,00   0,15%
  • IDX 8.235   0,22   0,00%
  • KOMPAS100 1.156   -1,44   -0,12%
  • LQ45 834   -3,53   -0,42%
  • ISSI 293   0,28   0,09%
  • IDX30 440   -3,60   -0,81%
  • IDXHIDIV20 527   -6,48   -1,22%
  • IDX80 129   -0,27   -0,21%
  • IDXV30 143   -1,25   -0,87%
  • IDXQ30 141   -1,73   -1,21%

Siapa yang Berpotensi Menggantikan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei?


Minggu, 01 Maret 2026 / 22:26 WIB
Siapa yang Berpotensi Menggantikan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei?


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

Kandidat Potensial

Nama putra Khamenei, Mojtaba Khamenei sempat disebut-sebut sebagai kandidat kuat. Namun, nasibnya belum jelas di tengah serangan terbaru yang juga dilaporkan menewaskan istrinya di Irak.

Alternatif lain adalah cucu Khomeini, Hassan Khomeini, yang dikenal dekat dengan faksi reformis.

Ia dinilai sebagian kalangan lebih mampu meredakan ketegangan dengan Barat dan merespons ketidakpuasan publik di dalam negeri.

Baca Juga: Pemimpin Tertinggi Iran Tewas dalam Serangan AS dan Israel, Ini Reaksi Global

Nama lain yang mencuat antara lain Arafi dan Mohseni-Ejei, yang cenderung mewakili garis keras. Mohseni-Ejei dikenal karena perannya dalam meredam protes domestik pasca-pemilu 2009.

Selain itu, anggota Majelis Ahli seperti Ahmad Alamolhoda dan Mohsen Araki juga disebut sebagai figur konservatif potensial.

Mantan presiden Hassan Rouhani memiliki latar belakang ulama senior, tetapi kurang mendapat dukungan dari kelompok garis keras yang berpengaruh.

Majelis Ahli secara teori dapat memilih figur yang kurang dikenal. Namun, kondisi politik yang terpecah akibat serangan membuat akan sulit membangun legitimasi bagi sosok baru tanpa basis kekuatan yang kuat.

Peran Garda Revolusi

Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) selama ini diperkirakan memainkan peran penting di balik layar dalam menentukan suksesi.

Berbeda dengan militer reguler yang berada di bawah presiden, IRGC bertanggung jawab langsung kepada pemimpin tertinggi.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, jajaran pimpinan IRGC terpukul oleh serangan AS dan Israel.

Baca Juga: OpenAI Kuasai Pertahanan AS, Kontrak Pentagon Ratusan Juta Dolar

Tokoh penting seperti Qassem Soleimani, komandan Pasukan Quds, tewas dalam serangan AS pada 2020.

Serangan lanjutan juga menewaskan sejumlah komandan senior lainnya, termasuk Mohammed Pakpour.

Selain kekuatan militer, IRGC memiliki pengaruh ekonomi besar melalui perusahaan konstruksi Khatam al-Anbiya yang menggarap proyek bernilai miliaran dolar di sektor minyak dan gas.

Kepentingan ekonomi ini bisa menjadi faktor penting dalam menentukan dukungan terhadap calon pemimpin baru.

Apakah Rakyat Iran Punya Suara?

Iran memiliki mekanisme pemilu untuk memilih presiden dan parlemen setiap empat tahun. Namun, kewenangan mereka tetap berada dalam batas yang ditentukan oleh pemimpin tertinggi.

Partisipasi pemilih yang sempat tinggi di awal berdirinya Republik Islam kini cenderung menurun seiring berkurangnya kepercayaan publik terhadap sistem politik.

Meski Presiden Pezeshkian dikenal sebagai figur moderat dan duduk dalam dewan kepemimpinan sementara, belum tentu ia memiliki pengaruh signifikan dalam proses suksesi.

Selain itu, meski Majelis Ahli dipilih melalui pemilu, seluruh kandidat harus lolos seleksi Dewan Garda, sehingga hanya figur yang sejalan dengan otoritas yang dapat maju.

Dengan struktur kekuasaan yang terkonsentrasi di kalangan elite ulama dan militer, masa depan kepemimpinan Iran kini berada di persimpangan krusial yang akan menentukan arah politik negara tersebut di tengah tekanan internal dan eksternal.




TERBARU

[X]
×