Sumber: TheIndependent.co.uk | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sebuah terobosan besar dalam dunia energi telah diumumkan oleh perusahaan rintisan asal Tiongkok, Betavolt, yang berhasil menciptakan baterai nuklir mini berdaya tahan hingga 50 tahun tanpa perlu pengisian ulang atau perawatan.
Dengan mengintegrasikan isotop nikel-63 ke dalam modul berukuran lebih kecil dari koin, teknologi ini membuka cakrawala baru bagi pemanfaatan energi atom dalam skala mikro yang sebelumnya sulit diwujudkan.
Miniaturisasi Energi Atom: Tonggak Baru Teknologi Energi Masa Depan
Betavolt mengklaim bahwa baterai nuklir mereka merupakan yang pertama di dunia yang berhasil meminimalkan ukuran sistem energi atom hingga mencapai skala milimeter kubik. Baterai generasi awal ini memiliki dimensi hanya 15x15x5 mm dan mampu menghasilkan daya 100 mikrowatt dengan tegangan 3 volt.
Baca Juga: Macron Buka Pembahasan Perluasan Perlindungan Nuklir Prancis untuk Sekutu Eropa
Target berikutnya adalah mengembangkan baterai dengan daya 1 watt yang siap diproduksi secara massal pada tahun 2025.
Teknologi ini dirancang untuk menjawab kebutuhan suplai daya jangka panjang pada berbagai perangkat seperti:
-
Sistem kedirgantaraan
-
Peralatan AI dan sensor canggih
-
Alat medis implan
-
Mikroprosesor dan robot mini
-
Drone skala kecil
Proses Kerja: Konversi Peluruhan Radioaktif Menjadi Energi Listrik
Baterai nuklir Betavolt memanfaatkan proses peluruhan radioaktif dari isotop nikel-63 untuk menghasilkan energi listrik. Proses ini dikenal sebagai betavoltaic conversion, yang telah dikaji sejak abad ke-20 dan sempat diaplikasikan oleh Uni Soviet dan Amerika Serikat dalam sistem antariksa serta stasiun ilmiah terpencil.
Namun, teknologi lama memiliki kelemahan dari segi ukuran dan biaya. Inovasi Betavolt mengatasi hambatan tersebut melalui rekayasa rekayasa struktur dan material yang sangat presisi, sehingga menghasilkan produk yang kecil, aman, dan efisien.
Baca Juga: Gawat! Trump Ancam Mengebom Iran Jika Tak Mencapai Kesepakatan Nuklir
Betavolt menekankan bahwa baterai nuklir mereka tidak mengeluarkan radiasi eksternal, serta tidak mudah terbakar atau meledak bahkan saat terkena benturan mendadak. Baterai ini dapat berfungsi dalam suhu ekstrem mulai dari -60°C hingga 120°C, menjadikannya ideal untuk aplikasi di lingkungan yang keras dan tidak stabil.
Di samping itu, struktur baterai yang berlapis memungkinkan penggunaan seri untuk menghasilkan daya lebih besar, tanpa meningkatkan risiko keselamatan atau menambah beban berat perangkat.
Setelah melalui periode peluruhan, isotop nikel-63 akan berubah menjadi tembaga stabil yang tidak bersifat radioaktif, sehingga tidak mencemari lingkungan. Aspek keberlanjutan ini menjadikan baterai nuklir Betavolt sebagai salah satu kandidat teknologi energi masa depan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan, sesuai dengan misi global menuju emisi nol karbon.
Potensi Komersialisasi: Masa Depan Tanpa Pengisian Daya
Dengan miniaturisasi baterai nuklir, Betavolt membuka peluang besar dalam dunia elektronik dan teknologi tinggi. Beberapa potensi aplikasi komersial antara lain:
-
Telepon genggam tanpa pengisian daya seumur hidup
-
Drone yang mampu terbang tanpa batas waktu
-
Perangkat medis seperti pacu jantung dan koklea dengan masa pakai 50 tahun
-
Sensor bawah laut dan luar angkasa yang tidak memerlukan pemeliharaan
Baca Juga: Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un Perintahkan Kesiapan Rudal Nuklir
Pengembangan baterai ini sejalan dengan Rencana Lima Tahun ke-14 Tiongkok (2021–2025) yang menekankan pada penguatan kemandirian teknologi nasional, terutama dalam bidang energi dan kecerdasan buatan.
Inovasi ini diharapkan dapat menjadikan Tiongkok sebagai pemimpin global dalam revolusi teknologi AI dan energi masa depan, melampaui capaian riset sejenis dari institusi di Amerika Serikat dan Eropa.