Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Bank of Israel kembali memangkas suku bunga acuannya pada Senin (25/5/2026) untuk ketiga kalinya dalam enam bulan terakhir.
Langkah ini diambil seiring stabilnya inflasi dan penguatan mata uang shekel, meskipun ketidakpastian geopolitik akibat konflik dengan Iran masih membayangi.
Mengutip Reuters, bank sentral Israel menurunkan suku bunga acuan menjadi 3,75% dari sebelumnya 4%, sesuai ekspektasi pasar.
Baca Juga: Presiden Bolivia Pangkas Gaji 50% di Tengah Krisis dan Aksi Protes
Sebelumnya, Bank of Israel juga memangkas suku bunga pada November 2025 dan Januari 2026, sebelum menahan kebijakan dalam dua pertemuan terakhir akibat kekhawatiran lonjakan inflasi yang dipicu perang.
Inflasi tahunan Israel tercatat tetap berada di level 1,9% pada April 2026, masih berada dalam target bank sentral sebesar 1%–3%.
Meski demikian, otoritas moneter tetap mewaspadai potensi kenaikan tekanan harga akibat perkembangan geopolitik, dampaknya terhadap aktivitas ekonomi, lonjakan harga energi, serta peningkatan belanja negara.
Bank sentral menilai penguatan shekel terhadap dolar AS, yang kini berada di level tertinggi dalam 33 tahun, turut membantu meredam tekanan inflasi.
Kondisi tersebut juga mendorong para eksportir mendesak bank sentral untuk memangkas suku bunga lebih lanjut atau melakukan intervensi di pasar valuta asing.
Sebagai informasi, AS dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran pada 28 Februari 2026. Meski gencatan senjata yang disepakati sejak 8 April masih bertahan, situasinya dinilai tetap rapuh.
“Ketidakpastian geopolitik masih tinggi, baik di dalam negeri maupun global,” tulis Bank of Israel dalam pernyataannya.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Anjlok 5% ke Level Terendah 2 Pekan, Optimistis AS-Iran Berdamai
Bank sentral juga menyebut perang Iran sempat menekan aktivitas ekonomi riil, namun data terbaru menunjukkan adanya pemulihan.
Dalam proyeksi yang dirilis Maret lalu, staf Bank of Israel memperkirakan masih akan ada dua kali pemangkasan suku bunga hingga awal 2027, yang dapat membawa suku bunga acuan ke level 3,5%.
Ke depan, arah kebijakan moneter Israel akan ditentukan oleh perkembangan inflasi, aktivitas ekonomi, ketidakpastian geopolitik, serta kondisi fiskal negara.













