kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.790.000   -15.000   -0,53%
  • USD/IDR 16.909   -48,00   -0,28%
  • IDX 8.992   -18,15   -0,20%
  • KOMPAS100 1.239   1,44   0,12%
  • LQ45 875   3,69   0,42%
  • ISSI 330   0,16   0,05%
  • IDX30 448   2,63   0,59%
  • IDXHIDIV20 528   6,59   1,26%
  • IDX80 138   0,26   0,19%
  • IDXV30 146   2,21   1,53%
  • IDXQ30 144   1,54   1,08%

Tekan Rupee, RBI Terjepit Antara Intervensi Kurs dan Krisis Likuiditas


Kamis, 22 Januari 2026 / 18:20 WIB
Tekan Rupee, RBI Terjepit Antara Intervensi Kurs dan Krisis Likuiditas
ILUSTRASI. Bank Sentral India (RBI) (REUTERS/Francis Mascarenhas)


Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika

KONTAN.CO.ID - MUMBAI. Bank Sentral India (Reserve Bank of India/RBI) kembali harus bekerja keras menahan tekanan terhadap nilai tukar rupee. Dalam dua hari terakhir, RBI dilaporkan menggelontorkan lebih dari US$ 2 miliar bahkan menurut sebagian pelaku pasar bisa menembus US$ 3 miliar melalui skema swap valuta asing (FX swap) untuk menutup lubang likuiditas yang tercipta akibat agresifnya penjualan dolar di pasar spot.

Langkah ini menunjukkan dilema klasik yang sedang dihadapi otoritas moneter India, yakni menahan pelemahan mata uang tanpa memperparah kekeringan likuiditas di sistem perbankan.

Tekanan terhadap rupee memang sedang berada di titik yang tidak nyaman. Reuters (22/1) melaporkan, arus keluar dana asing dari pasar saham, lonjakan permintaan dolar untuk impor emas batangan, serta kebutuhan lindung nilai yang meningkat membuat rupee tertekan dalam beberapa pekan terakhir. Puncaknya, pada Rabu (22/1), rupee anjlok 0,8% dan menyentuh rekor terendah sepanjang masa di level 91,7425 per dolar AS.

Masalahnya, intervensi di pasar spot untuk menahan laju pelemahan mata uang secara otomatis menguras likuiditas rupee di dalam negeri. Untuk mengurangi efek samping itu, RBI mengandalkan instrumen FX swap beli-jual dolar/rupee, di mana transaksi pertama diselesaikan di pasar spot dan transaksi balasan dilakukan di kemudian hari.

Baca Juga: Terjepit Tarif AS, India Cari Napas Lewat Lonjakan Ekspor ke China

Pelaku pasar menyebutkan, RBI melakukan swap tersebut pada Selasa dan Rabu dengan berbagai tenor. Meski nilai pastinya berbeda-beda menurut sumber, skalanya dinilai jauh lebih besar dibandingkan episode-episode intervensi sebelumnya.

“Volume swap kali ini tidak biasa. Ini mengindikasikan tekanan likuiditas mulai menjadi isu yang sama seriusnya dengan tekanan nilai tukar,” ujar seorang pejabat senior treasury bank swasta di India.

Data pasar uang menunjukkan, likuiditas sistem perbankan India memang kembali tergelincir ke zona defisit, meskipun RBI sebelumnya telah melakukan pembelian obligasi dan operasi swap. Pada Rabu, defisit likuiditas tercatat sekitar 60 miliar rupee atau setara US$ 655 juta.

Dengan kata lain, upaya mempertahankan stabilitas nilai tukar justru berpotensi memperketat kondisi likuiditas perbankan, sebuah trade-off yang tidak mudah dikelola.

Di sisi lain, efek samping positif dari swap tersebut adalah turunnya biaya lindung nilai dolar/rupee. Imbal hasil implisit untuk premi forward tenor satu tahun turun sekitar 10 basis poin dalam dua hari terakhir. Ini menahan kenaikan premi forward yang biasanya muncul ketika mata uang sedang tertekan.

Namun, pasar melihat langkah RBI ini lebih bersifat “pemadam kebakaran” ketimbang solusi struktural. Selama tekanan eksternal baik dari arus modal keluar, permintaan impor, maupun ketidakpastian global belum mereda, RBI tampaknya harus terus mengulang pola yang sama, intervensi di pasar spot, lalu menambalnya dengan FX swap.

Baca Juga: Maruti Suzuki Akan Investasi US$ 3,9 Miliar untuk Bangun Pabrik Baru di India

Selanjutnya: Dibayangi Kondisi Makroekonomi Global, Begini Prospek Bitcoin pada Kuartal I – 2026

Menarik Dibaca: 5 Teh Alami yang Ampuh Turunkan Kolesterol Tinggi Anda, Mau Coba?


Tag


TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×