kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.673.000   5.000   0,19%
  • USD/IDR 17.892   34,00   0,19%
  • IDX 6.101   -15,36   -0,25%
  • KOMPAS100 796   1,04   0,13%
  • LQ45 598   -0,77   -0,13%
  • ISSI 212   -1,29   -0,61%
  • IDX30 338   -0,72   -0,21%
  • IDXHIDIV20 413   -2,81   -0,68%
  • IDX80 90   0,11   0,12%
  • IDXV30 111   -0,72   -0,65%
  • IDXQ30 108   -0,25   -0,23%

Terkait mata-mata, Uni Eropa warning AS


Selasa, 02 Juli 2013 / 14:16 WIB
ILUSTRASI. Kementerian Kesehatan menyediakan layanan telemedicine isoman bagi pasien varian Omicron. Begini cara mengakses layanan tersebut.


Sumber: BBC | Editor: Asnil Amri

PARIS. Presiden Prancis, Francois Hollande menyatakan tidak akan ada negosiasi atau transaksi dengan Amerika Serikat (AS) di bidang apa pun, sampai ada jaminan kalau AS tidak memata-matai pejabat Uni Eropa.

Hollande mengatakan, negara-negara Eropa tidak bisa menerima perlakuan memata-matai, yang mestinya tidak pernah dilakukan antara negara-negara mitra dan sekutu.

"Tindakan (memata-matai) tersebut tidak bisa kami terima. Kami mendesak tindakan tersebut harus segera diakhiri," kata Presiden Hollande kepada para wartawan saat mengunjungi Prancis barat.

Perundingan paksa AS-Uni Eropa, perjanjian bilateral terbesar yang pernah dibahas kedua pihak, menurut rencana akan dimulai pada 8 Juli nanti.

Media di Eropa memberitakan, berdasarkan data rahasia, badan intelijen AS memata-matai sejumlah negara sekutu.

Sisa-sisa Perang Dingin

Sementara itu, Jerman menyebutkan, tindakan AS itu sebagai sisa-sisa dari Perang Dingin. "Kami tidak bisa menerima tindakan Amerika ... kami tidak hidup di era Perang Dingin," kata Steffen Seibert, juru bicara kanselir Jerman, Angela Merkel.

Ia menambahkan, Jerman ingin pakta perjanjian AS-Uni Eropa terwujud namun diperlukan rasa saling mempercayai agar kesepakatan bisa dicapai.

Sementara itu Menteri Luar Negeri Italia, Emma Bonino, mengatakan, Roma sudah meminta klarifikasi Washington soal kegiatan AS memantau komunikasi para pejabat Uni Eropa.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS, John Kerry, mengatakan, bukan hal yang aneh satu negara melakukan kerja-kerja intelijen untuk melindungi keamanan nasionalnya.




TERBARU
Langganan Business Insight promo optimal
Kontan Academy
Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value How to Manage Your Gen Z Salespeople?

[X]
×