Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - NEW DELHI. Presiden Amerika Serikat (AS)Donald Trump memperingatkan kemungkinan kenaikan tarif impor terhadap India jika New Delhi tidak membatasi pembelian minyak dari Rusia. Pernyataan ini menambah tekanan terhadap India di tengah perundingan dagang kedua negara yang belum mencapai kesepakatan.
Berbicara kepada wartawan di pesawat Air Force One pada Minggu (5/1/2026), Trump mengatakan India dapat segera dikenai tarif lebih tinggi.
Ia menyebut Perdana Menteri India Narendra Modi sebagai sosok yang “baik”, namun menegaskan ketidakpuasannya atas hubungan dagang dan pembelian minyak Rusia oleh India.
“India melakukan perdagangan, dan kami bisa menaikkan tarif dengan sangat cepat,” ujar Trump menanggapi pertanyaan soal impor minyak Rusia oleh India.
Baca Juga: India Tegaskan Tetap Beli Minyak Rusia Meski Dapat Tekanan dari AS
Hingga berita ini diturunkan, Kementerian Perdagangan India belum memberikan tanggapan resmi.
Pernyataan Trump menyusul berbulan-bulan negosiasi dagang setelah Amerika Serikat tahun lalu menggandakan tarif impor barang India menjadi 50%. Kenaikan tarif itu disebut sebagai sanksi atas besarnya pembelian minyak Rusia oleh India.
Pasar India bereaksi negatif. Pada Senin, indeks saham sektor teknologi informasi turun sekitar 2,5% ke level terendah dalam lebih dari satu bulan. Investor khawatir ketegangan dagang akan semakin menunda kesepakatan dagang AS–India.
Senator Republik Lindsey Graham, sekutu dekat Trump yang turut dalam perjalanan tersebut, mengatakan sanksi AS terhadap perusahaan minyak Rusia serta tarif tinggi terhadap India telah membantu menekan impor minyak Rusia oleh negara itu.
Graham juga mendukung rancangan undang-undang yang memungkinkan tarif hingga 500% bagi negara-negara, termasuk India, yang masih membeli minyak Rusia.
Baca Juga: Trump Ancam Tarik Pajak Tambahan bagi Negara Pembeli Minyak Rusia
“Jika Anda membeli minyak murah dari Rusia, Anda ikut menopang mesin perang Putin,” kata Graham. Ia menambahkan, kebijakan tarif dimaksudkan untuk memberi Presiden AS alat agar negara-negara tersebut dihadapkan pada pilihan sulit.
Meski demikian, para pakar perdagangan menilai posisi India menjadi semakin rumit. Ajay Srivastava, pendiri lembaga kajian Global Trade Research Initiative, mengatakan ekspor India ke AS sudah dikenai tarif 50%, dengan sekitar 25% di antaranya terkait langsung dengan pembelian minyak mentah Rusia.
Menurutnya, meski impor minyak Rusia oleh kilang India telah berkurang akibat sanksi, pembelian belum sepenuhnya berhenti, sehingga menempatkan India dalam “zona abu-abu strategis”.
“Ambiguitas tidak lagi efektif,” ujar Srivastava, seraya mendorong India untuk menyatakan sikap yang jelas.
Ia memperingatkan bahwa sekalipun India menghentikan impor minyak Rusia sepenuhnya, tekanan AS bisa beralih ke tuntutan dagang lain, sementara tarif yang lebih tinggi berisiko memperbesar kerugian ekspor.
Di sisi lain, India mengambil sikap diplomatik hati-hati setelah Amerika Serikat menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada Sabtu lalu, dengan menyerukan dialog tanpa secara terbuka menyebut Washington.
Baca Juga: Trump Berjanji Kenakan Tarif Besar Bagi India Hingga Berhenti Mengimpor Minyak Rusia
Meski menghadapi tarif tinggi, ekspor India ke AS sempat melonjak pada November, walau secara kumulatif pengiriman turun lebih dari 20% antara Mei hingga November 2025.
Dalam upaya meredakan kekhawatiran AS, pemerintah India kini meminta kilang minyak melaporkan pembelian minyak Rusia dan AS setiap pekan.
Perdana Menteri Narendra Modi tercatat telah berbicara dengan Trump setidaknya tiga kali sejak tarif diberlakukan. Sementara itu, Sekretaris Perdagangan India bertemu pejabat dagang AS bulan lalu, namun hingga kini perundingan masih menemui jalan buntu.













