Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
Menurutnya, meski impor minyak Rusia oleh kilang India telah berkurang akibat sanksi, pembelian belum sepenuhnya berhenti, sehingga menempatkan India dalam “zona abu-abu strategis”.
“Ambiguitas tidak lagi efektif,” ujar Srivastava, seraya mendorong India untuk menyatakan sikap yang jelas.
Ia memperingatkan bahwa sekalipun India menghentikan impor minyak Rusia sepenuhnya, tekanan AS bisa beralih ke tuntutan dagang lain, sementara tarif yang lebih tinggi berisiko memperbesar kerugian ekspor.
Di sisi lain, India mengambil sikap diplomatik hati-hati setelah Amerika Serikat menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada Sabtu lalu, dengan menyerukan dialog tanpa secara terbuka menyebut Washington.
Baca Juga: Trump Berjanji Kenakan Tarif Besar Bagi India Hingga Berhenti Mengimpor Minyak Rusia
Meski menghadapi tarif tinggi, ekspor India ke AS sempat melonjak pada November, walau secara kumulatif pengiriman turun lebih dari 20% antara Mei hingga November 2025.
Dalam upaya meredakan kekhawatiran AS, pemerintah India kini meminta kilang minyak melaporkan pembelian minyak Rusia dan AS setiap pekan.
Perdana Menteri Narendra Modi tercatat telah berbicara dengan Trump setidaknya tiga kali sejak tarif diberlakukan. Sementara itu, Sekretaris Perdagangan India bertemu pejabat dagang AS bulan lalu, namun hingga kini perundingan masih menemui jalan buntu.













