kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.893.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.949   -61,00   -0,36%
  • IDX 7.107   84,55   1,20%
  • KOMPAS100 978   11,34   1,17%
  • LQ45 722   8,69   1,22%
  • ISSI 249   4,23   1,73%
  • IDX30 393   5,52   1,42%
  • IDXHIDIV20 489   3,83   0,79%
  • IDX80 110   1,42   1,31%
  • IDXV30 134   2,21   1,67%
  • IDXQ30 127   1,16   0,92%

Trump: AS Sedang Mempertimbangkan untuk 'Mengakhiri' Perang Melawan Iran


Minggu, 22 Maret 2026 / 05:56 WIB
Trump: AS Sedang Mempertimbangkan untuk 'Mengakhiri' Perang Melawan Iran
ILUSTRASI. Iran luncurkan rudal balistik 4.000 km, pertama kali sejak konflik pecah. Jangkauannya kini bisa capai Berlin dan Paris (REUTERS/Evelyn Hockstein)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

DUBAI/WASHINGTON/JERUSALEM. Konflik antara Iran dan Israel memasuki fase baru setelah Israel menyatakan bahwa pasukan Iran untuk pertama kalinya meluncurkan rudal balistik jarak jauh, yang berpotensi memperluas ancaman serangan hingga ke luar kawasan Timur Tengah.

Perkembangan ini terjadi di tengah sinyal dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menyebut Washington tengah mempertimbangkan untuk mengurangi operasi militernya terhadap Iran.

Iran Luncurkan Rudal Jarak Jauh ke Diego Garcia

Menurut Kepala Staf Militer Israel, Eyal Zamir, Iran menembakkan dua rudal balistik dengan jangkauan hingga 4.000 kilometer yang menargetkan pangkalan militer AS-Inggris di Diego Garcia, Samudra Hindia.

Baca Juga: Resmi! Arab Saudi Usir Diplomat Iran, Ini Akar Permasalahannya

Zamir menegaskan bahwa rudal tersebut tidak ditujukan ke Israel, melainkan memiliki jangkauan yang mampu mencapai ibu kota negara-negara Eropa seperti Berlin, Paris, dan Roma. Hal ini menandai perluasan signifikan dari konflik yang sebelumnya terkonsentrasi di kawasan Timur Tengah.

Militer Israel menyebut penggunaan rudal jarak jauh ini sebagai yang pertama sejak konflik pecah pada 28 Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel mulai melancarkan serangan terhadap Iran.

Sinyal AS Kurangi Operasi, Namun Situasi Masih Dinamis

Dalam pernyataan di media sosial, Donald Trump mengatakan bahwa Amerika Serikat hampir mencapai tujuannya dalam operasi militer tersebut.

Ia juga menegaskan bahwa pengamanan jalur pelayaran strategis Selat Hormuz seharusnya menjadi tanggung jawab negara-negara yang memanfaatkannya, bukan semata-mata Amerika Serikat.

Meski demikian, sinyal kebijakan dari Washington dinilai belum konsisten. Di satu sisi, Trump membuka peluang deeskalasi, namun di sisi lain, pengerahan pasukan tambahan ke kawasan masih berlangsung.

Korban Jiwa dan Tekanan Politik di AS

Sejak konflik dimulai, lebih dari 2.000 orang dilaporkan tewas di Iran. Di dalam negeri AS, kekhawatiran publik meningkat seiring potensi meluasnya perang.

Lonjakan harga energi juga menjadi tekanan politik bagi pemerintahan Trump, karena mendorong inflasi dan membebani konsumen serta dunia usaha, terutama menjelang pemilu November yang berpotensi menentukan kendali Kongres.

Trump juga mengkritik sekutu-sekutu NATO yang dinilai enggan terlibat dalam pengamanan Selat Hormuz, meskipun sebagian negara menyatakan masih mempertimbangkan peran mereka.

Serangan Dekat Fasilitas Nuklir Israel

Di sisi lain, Iran juga meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel selatan, termasuk kota Dimona, yang berada dekat fasilitas nuklir strategis negara tersebut. Serangan ini menyebabkan seorang anak terluka parah dan puluhan lainnya mengalami luka-luka.

Baca Juga: AS Mulai Cemas: Akhirnya Trump Izinkan Penjualan Minyak Iran 30 Hari

Israel selama ini diyakini memiliki satu-satunya arsenal nuklir di Timur Tengah, meskipun tetap mempertahankan kebijakan ambigu dengan tidak mengonfirmasi maupun menyangkal kepemilikan senjata nuklir.

Serangan Balasan dan Target Infrastruktur Energi

Media Iran melaporkan adanya serangan terhadap kompleks pengayaan uranium Natanz, namun tidak ditemukan kebocoran radioaktif. Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan sedang melakukan investigasi terkait insiden tersebut.

Selain itu, serangan juga dilaporkan terjadi di pelabuhan Bushehr dan Pulau Kharg, yang merupakan pusat ekspor utama minyak Iran. Kawasan ini dinilai sebagai target strategis jika konflik meningkat ke tahap yang lebih luas.

Iran juga mengklaim telah meluncurkan drone ke pangkalan militer AS di Uni Emirat Arab dan Kuwait.

Israel Tingkatkan Serangan, Targetkan Infrastruktur Militer Iran

Israel menyatakan akan meningkatkan intensitas serangan dalam beberapa hari ke depan, termasuk menargetkan fasilitas produksi rudal balistik di sekitar Teheran.

Serangan udara juga dilaporkan menghantam wilayah permukiman di Ramsar, menewaskan tiga anggota keluarga. Sementara itu, sirene peringatan serangan udara terus berbunyi di berbagai wilayah Israel, memaksa jutaan warga mencari perlindungan.

Harga Gas Eropa Melonjak, Dampak Energi Kian Terasa

Dampak konflik juga terasa di pasar energi global. Harga gas alam di Eropa dilaporkan melonjak hingga 35% dalam sepekan terakhir, dipicu serangan terhadap ladang gas utama Iran dan balasan terhadap infrastruktur energi regional.

Baca Juga: Kilang Minyak di Asia Ramai-Ramai Pangkas Produksi, Indonesia Termasuk

Uni Eropa dilaporkan tengah mempertimbangkan penyesuaian target penyimpanan gas untuk menekan permintaan dan menjaga stabilitas pasokan.

Penutupan efektif Selat Hormuz terhadap sebagian besar pelayaran semakin memperburuk situasi, mengingat jalur ini mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dan LNG global.

Respons Global dan Dampak ke Asia

Beberapa negara mulai melakukan langkah diplomasi untuk mengamankan pasokan energi. India, misalnya, berhasil mengirimkan kapal pengangkut gas melalui Selat Hormuz setelah bernegosiasi dengan Iran.

Perdana Menteri Narendra Modi juga dilaporkan telah berbicara dengan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, guna memastikan kelancaran pasokan energi.

Sementara itu, Iran menyatakan kesiapan untuk mengizinkan kapal-kapal terkait Jepang melintas, mengingat sekitar 90% impor minyak Jepang bergantung pada jalur tersebut.

Eskalasi konflik yang melibatkan kekuatan besar serta meluasnya target serangan ke infrastruktur energi dan militer meningkatkan risiko krisis global, baik dari sisi keamanan maupun ekonomi.

Analis menilai bahwa selama ketegangan belum mereda, volatilitas pasar energi dan risiko geopolitik akan tetap tinggi, dengan dampak signifikan terhadap inflasi global dan stabilitas ekonomi dunia.




TERBARU

[X]
×