kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.880.000   90.000   3,23%
  • USD/IDR 16.850   -59,00   -0,35%
  • IDX 8.951   -41,17   -0,46%
  • KOMPAS100 1.235   -4,75   -0,38%
  • LQ45 874   -1,52   -0,17%
  • ISSI 329   -0,59   -0,18%
  • IDX30 449   0,67   0,15%
  • IDXHIDIV20 532   3,66   0,69%
  • IDX80 137   -0,49   -0,35%
  • IDXV30 148   1,36   0,93%
  • IDXQ30 144   0,72   0,50%

Trump Buru Mineral Greenland, Tarif Ditahan


Jumat, 23 Januari 2026 / 04:40 WIB
Trump Buru Mineral Greenland, Tarif Ditahan
ILUSTRASI. Presiden AS Donald Trump (REUTERS/Denis Balibouse)


Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika

​KONTAN.CO.ID - DAVOS. Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menggeser strategi tekanannya terhadap Eropa. Setelah berminggu-minggu mengancam akan mengenakan tarif impor ke negara-negara sekutu NATO, Trump kini menarik rem dan menawarkan apa yang ia sebut sebagai kerangka kesepakatan masa depan terkait Greenland dan kawasan Arktik.

Langkah ini menandai perubahan taktik Washington, dari ancaman perang dagang menjadi diplomasi berbasis kepentingan sumber daya dan keamanan.

Trump mengklaim pembicaraannya dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte di Swiss menghasilkan fondasi kesepakatan baru. Meski detailnya minim, satu hal cukup jelas adalah kepentingan utama AS bukan sekadar soal geopolitik, melainkan akses ke cadangan mineral strategis Greenland, terutama mineral tanah jarang yang krusial bagi industri teknologi, kendaraan listrik, dan pertahanan.

“Ini kesepakatan jangka panjang, soal keamanan dan mineral,” kata Trump dalam laporan Reuters (22/1) seraya menyebutnya sebagai kesepakatan yang berlaku selamanya.

Baca Juga: Vladimir Putin Perkirakan Harga Jual Greenland US$ 1 Miliar

Tanpa hitam di atas putih

Namun, di balik retorika itu, belum ada satu pun kesepakatan konkret. Sumber-sumber diplomatik menyebut tidak ada persetujuan mengenai pengalihan kedaulatan atau kepemilikan Greenland dari Denmark ke AS. Pemerintah Denmark pun menegaskan garis merahnya, negosiasi boleh mencakup keamanan, investasi, dan ekonomi tetapi tidak kedaulatan.

Yang menarik, perubahan sikap Trump ini langsung diikuti dengan pembatalan rencana tarif impor terhadap Inggris dan sejumlah negara Eropa, termasuk Jerman, Prancis, dan negara-negara Nordik. Sebelumnya, Trump mengancam akan mengenakan tarif hingga 25% jika Denmark tidak mau menjual Greenland.

Artinya, isu Greenland sejak awal tampak lebih sebagai alat tawar dalam negosiasi dagang dan geopolitik, ketimbang rencana akuisisi teritorial yang realistis.

Dari sisi ekonomi global, manuver ini menunjukkan dua hal. Pertama, Washington semakin terang-terangan menempatkan akses terhadap mineral strategis sebagai prioritas utama kebijakan luar negerinya, seiring meningkatnya persaingan dengan China di sektor teknologi dan rantai pasok bahan baku kritis. Kedua, ancaman tarif kembali terbukti lebih sebagai instrumen tekanan politik ketimbang kebijakan ekonomi yang benar-benar ingin dijalankan.

Pasar tentu belum bisa bernapas lega sepenuhnya. Ketidakpastian tetap ada karena Trump secara eksplisit menyebut tarif bisa kembali menjadi opsi jika negosiasi tidak berjalan sesuai keinginannya.

Sementara itu, di internal Eropa dan Greenland sendiri, resistensi juga menguat. Sejumlah politisi Greenland mempertanyakan mengapa NATO ikut bicara soal mineral di wilayah mereka.

Di atas kertas, AS sebenarnya sudah memiliki akses militer luas ke Greenland, termasuk pangkalan Pituffik dengan lebih dari 100 personel permanen. Bahkan, perjanjian yang ada memungkinkan AS menambah pasukan kapan saja. Ini memperkuat dugaan bahwa target berikutnya bukan lagi pangkalan militer, melainkan konsesi ekonomi dan sumber daya.

Baca Juga: Putin Angkat Bicara Soal Ambisi Trump Kuasai Greenland: Bukan Urusan Rusia!

Selanjutnya: Davos 2026: Dunia sebagai Multiplex


Tag


TERBARU

[X]
×