Sumber: Thomson Reuters | Editor: Noverius Laoli
Dalam percakapan itu, Erdogan juga menyampaikan komitmen Turki untuk terus berkoordinasi dengan Amerika Serikat terkait situasi di Gaza. Erdogan sekaligus mengucapkan terima kasih atas undangan Trump agar Turki bergabung dalam inisiatif “Board of Peace” atau dewan perdamaian gaza.
Dewan Keamanan PBB pada pertengahan November lalu mengesahkan resolusi yang memberi mandat kepada “Board of Peace” untuk membentuk pasukan stabilisasi internasional di Gaza.
Dewan ini awalnya dirancang untuk mengawasi pemerintahan sementara di Gaza, sebelum kemudian diperluas untuk menangani konflik di berbagai wilayah dunia.
Gencatan senjata yang rapuh di Gaza mulai berlaku sejak Oktober lalu berdasarkan rencana Trump, yang disepakati Israel dan kelompok Hamas. Meski demikian, kekerasan masih terjadi.
Lebih dari 460 warga Palestina, termasuk lebih dari 100 anak, serta tiga tentara Israel dilaporkan tewas sejak gencatan senjata dimulai.
Baca Juga: China Serukan Dunia Cegah Jepang Kembali ke Jalur Militerisme
Pemerintah Turki menyatakan Erdogan akan segera memutuskan apakah akan bergabung dalam inisiatif tersebut.
Selama ini, Ankara vokal mengkritik serangan Israel ke Gaza dan menyebutnya sebagai tindakan genosida, sementara Israel berulang kali menolak keterlibatan Turki dalam urusan Gaza.
Di sisi lain, sejumlah pakar HAM menilai peran Trump sebagai ketua dewan yang mengawasi wilayah asing berpotensi menyerupai praktik kolonial. Sejumlah diplomat juga khawatir pembentukan dewan global semacam ini dapat melemahkan peran Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Gedung Putih menyebut beberapa tokoh yang ditunjuk menjadi anggota “Board of Peace”, antara lain Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair, serta menantu Trump, Jared Kushner.













