Sumber: Thomson Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON/ANKARA. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan membahas perkembangan terbaru di Suriah dan Gaza dalam percakapan telepon pada Selasa (20/1/2026).
Pembicaraan ini berlangsung di tengah dinamika baru di Suriah serta upaya internasional menjaga gencatan senjata di Gaza.
Kepresidenan Turki menyatakan, Erdogan menegaskan pentingnya menjaga persatuan, stabilitas, dan keutuhan wilayah Suriah. Ankara, kata Erdogan, terus memantau situasi di negara tetangganya itu dengan cermat.
Baca Juga: Pesawat Trump Alami Gangguan Listrik, Perjalanan ke Davos Tetap Dilanjutkan
“Presiden Erdogan menyampaikan bahwa persatuan, keharmonisan, dan integritas teritorial Suriah merupakan hal yang sangat penting bagi Turki,” demikian pernyataan resmi kepresidenan Turki.
Trump sebelumnya menyebut percakapan tersebut sebagai panggilan yang sangat baik, meski tidak merinci isi pembahasannya.
Pembicaraan kedua pemimpin berlangsung saat pemerintah baru Suriah yang didukung Turki mengumumkan gencatan senjata dengan Pasukan Demokratik Suriah (Syrian Democratic Forces/SDF) yang didukung Amerika Serikat, setelah beberapa hari bentrokan di wilayah timur laut Suriah.
Pemerintah Suriah dilaporkan telah menguasai sejumlah wilayah di kawasan tersebut dan memberi tenggat waktu empat hari kepada SDF untuk menyepakati integrasi ke dalam struktur negara.
Amerika Serikat, sebagai sekutu utama SDF, menyatakan bahwa bentuk kemitraannya dengan kelompok tersebut telah berubah seiring terbentuknya pemerintahan baru di Suriah.
Selain Suriah, Erdogan dan Trump juga membahas upaya memerangi kelompok militan ISIS serta kondisi para tahanan ISIS di penjara-penjara Suriah.
Baca Juga: Vietnam Akan Ubah Aturan untuk Mendorong Pengembangan Pembangkit Listrik LNG
Turki selama ini menganggap SDF sebagai organisasi teroris karena keterkaitannya dengan Partai Pekerja Kurdistan (PKK), kelompok yang telah berkonflik dengan negara Turki selama puluhan tahun.
Dalam proses perdamaian domestik, Ankara menuntut PKK dan afiliasinya untuk membubarkan diri dan melucuti senjata.
Sebagai pendukung utama pemerintah baru Suriah, Turki secara terbuka memuji langkah Damaskus dalam menekan SDF dan mendorong kelompok tersebut untuk bergabung dengan institusi negara Suriah.
Bahas Gaza dan Undangan “Board of Peace”
Dalam percakapan itu, Erdogan juga menyampaikan komitmen Turki untuk terus berkoordinasi dengan Amerika Serikat terkait situasi di Gaza. Erdogan sekaligus mengucapkan terima kasih atas undangan Trump agar Turki bergabung dalam inisiatif “Board of Peace” atau dewan perdamaian gaza.
Dewan Keamanan PBB pada pertengahan November lalu mengesahkan resolusi yang memberi mandat kepada “Board of Peace” untuk membentuk pasukan stabilisasi internasional di Gaza.
Dewan ini awalnya dirancang untuk mengawasi pemerintahan sementara di Gaza, sebelum kemudian diperluas untuk menangani konflik di berbagai wilayah dunia.
Gencatan senjata yang rapuh di Gaza mulai berlaku sejak Oktober lalu berdasarkan rencana Trump, yang disepakati Israel dan kelompok Hamas. Meski demikian, kekerasan masih terjadi.
Lebih dari 460 warga Palestina, termasuk lebih dari 100 anak, serta tiga tentara Israel dilaporkan tewas sejak gencatan senjata dimulai.
Baca Juga: China Serukan Dunia Cegah Jepang Kembali ke Jalur Militerisme
Pemerintah Turki menyatakan Erdogan akan segera memutuskan apakah akan bergabung dalam inisiatif tersebut.
Selama ini, Ankara vokal mengkritik serangan Israel ke Gaza dan menyebutnya sebagai tindakan genosida, sementara Israel berulang kali menolak keterlibatan Turki dalam urusan Gaza.
Di sisi lain, sejumlah pakar HAM menilai peran Trump sebagai ketua dewan yang mengawasi wilayah asing berpotensi menyerupai praktik kolonial. Sejumlah diplomat juga khawatir pembentukan dewan global semacam ini dapat melemahkan peran Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Gedung Putih menyebut beberapa tokoh yang ditunjuk menjadi anggota “Board of Peace”, antara lain Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair, serta menantu Trump, Jared Kushner.













