Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Pelaku pengiriman minyak dan gas kini menunggu kejelasan soal logistik setelah kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang berpotensi membuka kembali Selat Hormuz.
Para penyuling minyak pun mulai menanyakan jadwal muat baru pada Rabu (8/4/2026).
Melansir Reuters berdasarkan data LSEG Shipping, sebagian besar tanker minyak dan gas yang terjebak masih berada di Teluk, beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu dan menyatakan AS siap membantu menata lalu lintas kapal yang menumpuk.
Baca Juga: Italia Tolak Kirim Kapal ke Selat Hormuz Tanpa Mandat PBB
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan bahwa jika serangan terhadap Iran berhenti, Teheran akan menghentikan serangan balasan dan “menyediakan jalur aman dengan koordinasi pasukan bersenjata, dengan memperhatikan batasan teknis.”
Menurut ship tracker Kpler, hingga Selasa (7/4/2026), ada sekitar 187 tanker berbobot penuh yang membawa 172 juta barel minyak mentah dan produk olahan masih berada di Selat Hormuz.
Dengan lebih dari 1.000 kapal laut terjebak di Teluk, proses penanganan tumpukan kapal kemungkinan memakan waktu lebih dari dua minggu, bahkan dalam kondisi normal, kata Daejin Lee, Kepala Riset Global di Fertmax FZCO.
“Jendela 14 hari terlalu singkat untuk mengembalikan tingkat kepercayaan yang diperlukan agar premi ketidakpastian bisa hilang sepenuhnya, terutama untuk jalur muat dari Teluk Arab,” ujar Lee.
Baca Juga: Trump Ancam Tarif 50% bagi Negara Pemasok Senjata ke Iran
Lee menambahkan, banyak hal masih belum jelas, termasuk langkah yang harus dilakukan kapal dan pemilik charter untuk bisa melintas.
“Banyak pemilik kapal papan atas mungkin akan menunggu beberapa hari untuk memastikan gencatan senjata bertahan sebelum mengerahkan kapal mereka,” kata Lee.
Jakob Larsen, Kepala Keselamatan dan Keamanan di asosiasi pelayaran Bimco menekankan industri menunggu rincian teknis dari AS dan Iran.
“Meninggalkan Teluk tanpa koordinasi terlebih dahulu dengan AS dan Iran akan meningkatkan risiko dan tidak disarankan,” ujarnya.
Sikap “Tunggu dan Lihat”
Iran memblokade Selat Hormuz sebagai respons terhadap serangan AS dan Israel yang dimulai pada 28 Februari, sehingga hampir menutup jalur yang digunakan untuk mengirim 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
Penutupan ini mendorong harga energi melambung tinggi dan mengguncang ekonomi serta pasar global.
Baca Juga: Pakistan Sukses Mediasi AS-Iran, Qatar Desak Semua Pihak Kendalikan Diri
Gencatan senjata yang diumumkan sekitar 90 menit sebelum tenggat waktu Trump untuk membuka kembali Selat Hormuz membuat harga minyak turun tajam.
Dua broker kapal menyebut, pemilik kapal kemungkinan tetap bersikap “tunggu dan lihat” sebelum kapal diperbolehkan memasuki Teluk.
Permintaan kapal Very Large Crude Carriers (VLCC) untuk mengangkut minyak mentah Timur Tengah ke Asia melonjak pada Rabu, dengan penyuling di Asia seperti Reliance Industries, Indian Oil Corp, Nghi Son Refinery & Petrochemical, serta CNOOC, termasuk Abu Dhabi National Oil Co, Glencore, dan TotalEnergies, mulai mencari kapal, menurut tiga sumber pelayaran.
Glencore dan TotalEnergies menolak berkomentar, sementara perusahaan lain belum memberikan tanggapan resmi.
Grup pelayaran Denmark Maersk menyatakan, gencatan senjata bisa menciptakan peluang transit di Selat Hormuz, tetapi belum memberikan kepastian penuh secara maritim.
Kementerian Luar Negeri Indonesia menyatakan sedang bekerja sama dengan pihak Iran untuk memastikan dua kapal Pertamina yang terjebak di Teluk bisa melintas.
Baca Juga: Yunani Larang Akses Media Sosial untuk Anak di Bawah 15 Tahun Mulai 2027
“Beberapa hal teknis sedang ditindaklanjuti untuk memastikan keselamatan pelayaran, termasuk asuransi dan kesiapan kru,” ujar juru bicara Kemenlu, Vahd Nabyl Achmad Mulachela.
Kementerian Luar Negeri China berharap semua pihak berupaya bersama agar perdagangan melalui Selat Hormuz bisa kembali normal, sementara Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, mengadakan pertemuan dengan Presiden Iran.
Ekonomi Asia, sebagai pembeli utama minyak yang melewati Selat Hormuz, paling terdampak akibat gangguan ini.
“Kami memperkirakan tanker dan minyak yang dikirim ke negara yang bersahabat dengan Iran akan menjadi yang pertama melintas,” kata Anoop Singh, Kepala Riset Pelayaran Global di Oil Brokerage.
“Kebanyakan tanker minyak akan diperbolehkan melintas,” tambahnya, dengan perkiraan lebih dari 50 VLCC dan sekitar 15 kapal Suezmax bisa keluar dari Teluk.













